Artha Ratu Nauli

An over-thinker. Adventurer.
Graduated as Petroleum engineer.
Super random person you'll ever meet.

March 25, 2014

TM08



Kelakuan :))))

I love you , saudaraku  Teknik Perminyakan ITB 2008 !

December 04, 2013

ITB (kali ini dari sudut FSRD)



gambarnya dari sini


Sebuah Tulisan Oleh Pandji Pragiwaksono, di 'NASIONAL.IS.ME'

Kuliah merupakan pengalaman yang terpenting saya karena untuk pertama kalinya, saya hidup terpisah dari orang tua.
Saya hidup sendiri. Belajar hidup mandiri.

Dari pertama kali saya menginjakkan kaki di Bandung saya sudah cinta dengan kota ini.

Dingin!

Tahun 1997 sih masih dingin.. bahkan pagi pagi masih ada kabut yang begitu tebal sehingga gedung SABUGA hilang ditelan kabut.

SABUGA adalah singkatan dari Sasana Budaya Ganesha.

Sebuah kompleks fasilitas paling megah yang pernah saya lihat hingga pada saat itu.

Ada lapangan sepakbola yang begitu hijau dikelilingin lintasan lari, kolam renang dengan papan lompat
indah, sejumlah lapangan tenis, sejumlah lapangan basket, dan sebuah gedung megah multiguna.

Dari proses wisuda mahasiswa sampai konser musik dihelat di sana.

Saya ingat waktu pertama kali saya lihat kompleks itu.

Supir saya masih Pak Wito, bersama dengan Ibu saya kami ke Bandung.

Ketika melintasi jalan mata saya tiba-tiba terbelalak melihat kompleks itu yang posisinya lebih rendah dari jalan seperti di bawah lembah.

Saya minta mobil untuk berhenti sebentar di lahan parkiran.

Kami kemudian turun.

Saya berjalan ke ujung bukit dan melihat ke lembah di bawahnya.. menatap fasilitas olahraga yang ada.

Dalam hati saya "Suatu hari gue akan masuk tim basket ITB dan bermain di lapangan itu"
(kelak saya tahu bahwa lapangan itu bisa dipakai umum dan bahkan lapangannya licin karena salah menggunakan jenis cat )

Supir saya bertanya kepada Ibu saya dengan pelan tapi saya tetap mendengar,
"Bu, kalau Mas Pandji nggak masuk ITB gimana jadinya?"
Saya tidak mendengar jawaban ibu saya tapi saya tidak peduli... Saya sedang berangan-angan. Sedang bermimpi.

Pada akhirnya saya masuk tim basket ITB walau kami tidak juara apa-apa selama saya di sana.

Kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung) memberikan sebuah pengalaman baru untuk saya.

ITB betul-betul melting pot.

Dari Sabang sampai Merauke , perwakilan pemuda dan pemudinya ada di sana.

Teman-teman saya beragam suku dan keturunan, dari Irto (Irja Toba, teman saya bermain basket dari Papua yang sangat, sangat lucu) sampai Icut (nama aslinya Cut siapaaa gitu, saya lupa) teman perempuan saya dari Aceh yang selalu kelihatan sibuk dengan segala aktivitasnya.

ITB punya kebanggaan semu yang agak aneh tapi menarik.

Lingkungan dan penilaian sekitar membuat mahasiswa ITB merasa seperti anak-anak terbaik bangsa, isinya mahasiswa pintar yang HARUS punya kepedulian terhadap masyarakat sekitar.

Dari ospek baik ospek gabungan ataupun ospek fakultas dan jurusan kami mendapatkan kesan itu.

Sejujurnya, menurut saya anak ITB tidak lebih cerdas daripada anak-anak di kampus yang lain.

Sama saja.

Perbedaannya mungkin memang ada, tapi lebih kepada fasilitasnya.

Itupun sebenarnya juga sangat relatif, apalagi kalau dibandingkan dengan fasilitas di UPH (Universitas Pelita Harapan) misalnya.

ITB itu yang bagus brandingnya
 
Toh dari dulu saya meyakini ‘
Hard work beats talent, when talent doesn’t work hard’ .

Jadi memang jatuhnya kepada usaha kita masing-masing.

Yang juga menguntungkan dari ITB adalah bahwa beasiswanya teramat sangat banyak.

Saya saja kaget.

Seperti yang sempat saya tulis di atas, begitu banyaknya beasiswa sehingga yang relatif mampu pun bisa dapat.

ITB pun pada jaman saya tidak terhindar dari tawuran antar jurusan.

Kala itu, gara-gara sudah dikondisikan Gonzaga, saya merasa tawuran itu sudah gak jaman dan absurd.

Tapi di fakultas saya, tawuran justru sebuah hiburan.

Kami tidak pernah benar-benar membenci. Kami hanya senang dengan seru-serunya.

Kalau ada tawuran, teman-teman di FSRD sering terjun ke "kancah perang" dengan kostum!

Mukanya benar-benar terlihat garang... tapi pakai kuping-kupingan kelinci!?

Ada lagi yang kalau tawuran kerjanya lari-larian di antara orang yang tawuran tapi sama sekali tidak memukul dan (di sini seninya) sama sekali tidak kena pukul.

Jadi hanya lari-larian saja di antara orang orang yang ramai tawuran.

Saya sama sekali tidak pernah ikutan tawuran.

Saya masuk ke rombongan lapis III.

Hehehe


Di FSRD ada 3 lapisan kalau mau tawuran.

Lapisan pertama yang paling depan dan sok-sok
ngajak berantem.

Lapisan kedua adalah yang sok-sok menahan.

Lapisan ketiga adalah yang ketawa-ketawa sambil nonton adegan lucu itu.

Fakultas saya memang rada aneh.

Kami sering mengumpamakan gedung FSRD sebagai Desa Galia di tengah-tengah jajahan romawi.
Desa riuh ramai yang kadang suka berantem dengan sesamanya tapi kalau ada serangan dari luar kami bersatu dengan begitu kuatnya.

Ospek saya tidak seperti ospek yang lain.

Ospek kami lucu.

Saya dengan suka rela ikut serta karena saya senang.

Saya sering dihukum karena kebanyakan ketawa.

Hukumannya, dibikin ketawa oleh senior.

Lalu kalau saya ketawa lagi, saya dihukum lagi dengan cara yang sama: dibikin ketawa.

Intinya, senior-senior saya senang "tampil".

Anak baru dijadikan penonton karya-karya mereka yang memang saya akui sangat menghibur.

Ospeknya selalu bertema. Selalu lucu. Selalu niat.

Tidak hanya sekedar teriak-teriakan dan bentak-bentakkan. Ada sih kadang kadang, tapi bagi saya sih masih biasa.

FSRD adalah kampus dengan semangat berkesenian yang tinggi.

Dan seniman bukanlah seniman kalau tidak berkarya.

Maka berkarya sangatlah dianjurkan dan didukung di fakultas kami.

Situasi kampusnya dikondisikan agar enak berkarya.

Dengan karya karya kami, maka kampus selalu ramai. Selalu ada acara. Selalu ada kelucuan dan pada akhirnya, selalu ada kisah menarik dan indah untuk diceritakan dan dikenang.

Acaranyapun dinilai dengan sangat demokratis. Kalau acaranya bagus, ramai. Kalau jelek, sepi.

Sudah. Itu saja tolok ukurnya.

Tapi kesederhanaan penilaian itu tidak menyurutkan semangat setiap individu kami untuk berkarya

Terlalu banyak acara acara dan karya teman-teman selama kuliah yang bisa saya ceritakan.

Tidak akan muat masuk buku ini dan juga takutnya akan melenceng.

Intinya adalah, FSRD-lah yang meyakinkan saya bahwa saya bisa dan harus berkarya.

Kami datang dari universitas negeri dengan segala keterbatasan dana.

Tapi dari kuliahpun kami diajarkan untuk melabrak keterbatasan itu.

Uang akan selalu jadi masalah, kalau kita biarkan menjadi masalah, maka uang akan memasung kreativitas kami.

Maka kami selalu mencari jalan lain.

Jalan yang lebih keras, tapi pantas untuk kami ambil.

Gara-gara kampus inilah saya pertama kali belajar menebang pohon bambu dan menggotong bambu dari hutan ke kota demi membawa bahan baku yang kami gunakan untuk membangun sebuah perupaan acara.

Saya kuliah 4.5 tahun dan betapapun saya banyak sedih dan kesal di kampus ini, hari ini kalau saya ingat, saya selalu bahagia masuk kampus tersebut.

  --

Aku , yang terlalu jatuh cinta pada kampus ini.

November 20, 2012

pengajaran


Kampus Ganesha ini telah mengajarkan arti lebih dari dua kata kerja “Membangun dan Menyatukan”

dan dua kata benda “Keluarga dan Cita-cita”.

-Anjardimara. Presiden KM ITB 2012/2013

August 04, 2012

I love my almamater and i know it

Siapa sih anak ITB yang tidak cinta ITB?  Siapa? Siapa? Siapaaa??? Hayo ngaku klean! *dikira osjur*

Kalau lagi ga semangat melakukan hal-hal berbau akademis ataupun sesuatu yang produktif,  biasanya saya melakukan cara tertentu, salah satunya adalah mendengarkan lagu-lagu ITB. And it works!  Hahaha ITB freak kah saya?


Video di atas adalah Mars ITB, dibuat oleh senior saya, Bang Thamrin (Teknik Perminyakan 2006), jadi jangan heran ya kalau video klipnya juga foto-foto anak minyak. hehe..

Mars ITB

Derapkan langkah tatap ke depan
ITB Citra Ganesha
Curahkan daya kejarlah cita
Bakti pada negara

Siapkan diri, teguhkan hati
Tegarkan tekad pribadi
Langkah dan karya nyatakan pasti
Dambaan ibu pertiwi

Hai putra bangsa insan persada
Tugas mulia menantimu
Semangat dan tekad kembangkan selalu
Sinar terang pasti datang

Kajilah ilmu dan teknologi
Seni dan budaya bangsa
Kukuhkan sikapmu dan tekadmu mandiri
Capai masa gemilang

Rentangkan sayap, pancarkan citra
Cerdaskan putra negara
Hantarkan bangsa Indonesia
Adil makmur sejahtera

Majulah maju pandu sejati
Almamater yang tercinta
Semoga semakin kukuh dewasa
Tetap jaya dan abadi


Fufufuu... cinta banget sama kampus ini cinta cinta cintaaaaaa hahahahaaaa

Yuk mari semangat lagi! ~

March 11, 2012

Mahasiswa SWASTA

Saya ga mau membahas mengenai perbedaan kampus negeri atau kampus swasta kok disini. Karena jaman sekarang nyaris ga da bedanya. Membahas mengenai tingginya biaya pendidikan tinggi di Indonesia, juga bukan. Atau nanti lah ya, mungkin suatu waktu saya akan bahas, tapi tidak saat ini. 


SWASTA disini adalah 'panggilan sayang' (penghalusan dari istilah 'guyonan' atau 'sindiran') buat mahasiswa tingkat akhir di ITB. SWASTA yang merupakan singkatan dari Sudah WAktunya Selesaikan TA (Tugas Akhir). Cukup manis bukan gelarnya. Masih kuliah, tapi sudah bergelar 'swasta'.


Nah. Berhubung saat ini saya sudah memasuki masa-masa akhir perkuliahan, maka dengan penuh suka-cita saya pun menerima penganugerahan gelar terhormat tersebut. Ya. SWASTA.  
Kakak SWASTA ngeri kaliiii....


Okay terimakasih.


Nah, sebagai swasta yang baik, apa sih yang harus dilakukan? Ya mengerjakan TA. Pasti. Tapi ga hanya itu. Di himpunan,atau organisasi lain yang ada di kampus, pada umumnya SWASTA sudah tidak memegang jabatan krusial lagi. Jadi tugasnya adalah memberikan bimbingan dan kontrol terhadap sistem yang tengah dijalankan oleh junior-juniornya.


Di organisasi di kampus saya, seperti himpunan ataupun unit, SWASTA sangat dihormati dan didengar suaranya. Maklum, mahasiswa SWASTA dianggap lebih sepuh (kok tua banget ya kesannya), lebih tau lah mengenai sistem karena ya memang lebih dulu terjun ke dalam sistem yang ada. Nah, dengan perlakuan yang begitu spesial dari junior-juniornya, saya akui terkadang ada beberapa swasta yang cenderung menjadi arogan, merasa argumennya selalu benar dan tak terbantah. Tapi lebih banyak kok yang justru sangat terbuka untuk membagi pengalaman dan ilmunya kepada junior. Bersikap lebih mengayomi.


Intinya, buat teman-teman SWASTA, marilah kita support adik-adik kita dalam menjalankan roda himpunan ataupun unit. Berikan selalu ilmu dan contoh-contoh positif kepada mereka, berdasarkan pengalaman yang sudah lebih dulu kita punya. 


Dan yang satu hal yang pasti, Hey, Sudah WAktunya Selesaikan TA ! :D

December 08, 2011

Pohon Bunga

 Pohon bunga kuning di kampusku.  Selama 3 tahun lebih kuliah di ITB, baru ini saya melihat pohon ini berbunga. Lebat. Indah. 
Berbunga pada musim panas pertengahan tahun.
Di depan perpustakaan pusat. Tertanam mengamati kami beraktivitas, damai. :)