Artha Ratu Nauli

An over-thinker. Adventurer.
Graduated as Petroleum engineer.
Super random person you'll ever meet.

December 21, 2015

"Tempat kita mengerti bahwa sesuatu yang paling kita tunggu dan inginkan sebenarnya adalah hal - hal kecil yang sedang kita dekap, tetapi sering kita sepelekan di keseharian.."

-fahd padhepie, jodoh, hal.111

November 04, 2012

Reading Books Makes You Better













all pictures taken from: bookshelfporn.com


June 01, 2012

Give more time for books!

These are the books that I’ve enjoyed. I figured, what better time to do a little reading than in the summer? Especially for those of you who are off from academic thingy or on a little vacation! Never mind, I picked some easy reads and i'am sure there’s a book on my list for everyone:

  • Partikel - Dee
  • Padang Bulan - Andrea Hirata
  • Brida - Paulo Cuelho
  • Migas dan Energi di Indonesia - Widjajono Partowidagdo
Most of them are novels, about life, relationship, yet self-recognition, and the last is a non-fiction book written by my lecture, you will know about energy but don't worry, you will also get some wisdom word about life inside.

Hope you enjoy :)

April 16, 2012

Padang Bulan


Siapa sih yang tidak kenal, atau setidaknya pasti pernah mendengar, Laskar Pelangi. Megakarya yang berawal dari novel dan kemudian difilmkan. Nah masih dengan penulis yang sama, Andrea Hirata, sebuah mahakarya kembali lahir, Dwilogi Padang Bulan. 

Sebenarnya buku ini bukanlah buku baru terbit. Terbit sekitar tahun 2010. Pada awal rilisnya, buku ini dikemas dobel dengan 'pasangan'nya, Cinta Dalam Gelas. Namun, lately, saat saya (akhirnya) beli, satu minggu yang lalu, package-nya sudah dipisah. Dijual terpisah antra Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas.

Untuk Padang Bulan, selain tentu saja bercerita mengenai Ikal di negeri Belitongnya, juga menyisipkan kisah seorang Enong. Gadis yatim dengan empat orang adik dan seorang ibu yang menjadi janda. Setelah kepergian ayahnya yang meninggal terkubur tanah tambang timah, tinggallah ia sebagai anak pertama yang kala itu masih kelas 6 Sekolah Dasar, terpaksa putus sekolah dan bekerja demi menopang perut-perut kelaparan di dalam rumahnya. Anak yang tidak pernah patah asa, dengan Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata pemberian almarhum Ayahnya sebagai 'jimat' penyemangat, membuat gadis ini terus berjuang serta kecintaannya pada Bahasa Inggris -excitement terhadap ilmu pengetahuan,yang merupakan salah satu ciri khas karya Andrea Hirata-  memberikan sedikit warna ke dalam kehidupan nasibnya yang didominasi abu-abu.

"Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri"

"Janganlah berputus asa. Lihatlah kakak, ni, dari kecil Kakak susah. Cobaan datang bertubi-tubi, tapi mana pernah Kakak patah harapan. Tak pernah! Hidup ini harus tabah--Enong"

Sementara itu, Ikal yang sama sekali tidak bisa melupakan A Ling, memutuskan untuk secara nekat membawa lari perempuan Tionghoa itu ke Jakarta, dengan konsekuensi cap sebagai anak durhaka melekat dikeningnya karena berarti secara gamblang menentang sang ayah yang tidak merestui hubungan keduanya yang berbeda keyakinan. Ditengah rencana pelarian tersebut, tiba-tiba hadir seorang pemuda yang nyaris lebih segala-galanya dibanding Ikal, meredupkan seluruh rencana. Pria melayu itu cenderung 'gila' karena cemburu dan patah hati.

"Adapun aku, adalah orang yang rela melakukan upaya apapun meskipun konyol dan tak masuk akal, untuk merebut kembali cinta yang telah direbut orang lain."

"Aku tak dapat melihat Zinar tanpa merasa cemburu. Aku tak dapat melihat A Ling tanpa merasa patah hati. Aku tak dapat melihat ibuku tanpa merasa malu. Dan aku tak dapat melihat ayahku tanpa merasa bersalah."

"Cemburu dan patah hati telah menghancurkan setiap sendi diriku, juga keindahan menunggu hujan pertama itu."

"Cinta, butuh perjuangan, Boi. Jangan kau sangka mudah!" 

Pendeskribsian karakter tokoh, suasana tempat, dan peristiwa, membuat kita merasa benar-benar berada di Belitong. Di Tanjung Pandan. Di Warung Kopi 'Usah Kau Kenang Lagi'. Bahkan di gudang tua bekas pencucian instalasi timah. Ditambah dengan nasehat - nasehat kehidupan dalam bahasa rakyat kampung yang sederhana tapi mengena. Membuat novel ini terasa lezat namun tidak akan membuatmu eneg.

"Ini aku! Putra ayahku! Berilah padaku sesuatu yang besar untuk kutaklukkan! Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin karena aku belum menyerah! Takkan pernah menyerah. Takkan pernah!"


---




*picture is taken from: Andrea-Hirata.com

*selanjutnya: Cinta Dalam Gelas. Sabar ya.. ini lagi baca. :)) "







 





January 13, 2012

9 Summers 10 Autumns



Dari Kota Apel ke The Big Apple

"Bapakku, sopir angkot yang tidak dapat mengingat tanggal lahirnya. Dia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SMP. Sementara ibuku, tidak bisa menyelesaikan sekolahnya di SD. Dia cermin kesederhanaan yang sempurna. Empat saudara perempuanku adalah empat pilar kokoh. Di tengah kesulitan, kami hanya bisa bermain dengan buku pelajaran danmencari tambahan uang dengan berjualan pada saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang sayur di pasar. Pendidikanlah yang kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Cinta keluargalah yang akhirnya menyelamatkan semuanya."

Dengan latar belakang kehidupan keluarga yang terseok-seok, bertahan hidup yang mayoritas adalah dari uang pinjaman kerabat ataupun bekerja serabutan dengana gaji hanya cukup untuk makan, membuat ia terpaksa menghabiskan masa kecilnya tanpa mengenal mainan ataupun tamasya layaknya anak-anak lain, hanya bermain dengan bukupelajaran seadanya, di bawah temaram lampu 5 watt.
Sebuah novel besutan Iwan Setyawan ini menceritakan kisah hidupnya yang berasal dari keluarga 'kelas bawah'. Novel ini menggambarkan betapa keberanian melawan kenyataan yang ada -yang seringkali pahit- adalah sesuatu yang mutlak dilakukan untuk dapat merubah hidup. 

Serta doa dan komitmen diri untuk memajukan keluarga, menjadi mainpower baginya dalam menjalani hidup dan meraih sukses.

Dilihat dari gaya bercerita, novel ini menggunakan pola maju-mundur, dimana kisah hidupnya saat ini ia ceritakan dengan pola maju, dan kisah hidup masa lalunya ia selipkan dalam dialog hidup masa kininya. Cukup menarik, walau terkadang  seringkali saya merasa jenuh terhadap kalimat-kalimat yang ia gunakan sebagai pengantar ketika akan mulai memasuki kisah jaman dulunya. Di lain sisi, pemilihan gaya bahasa yang simple, membuat buku ini menjadi renyah untuk dibaca.

Dari segi perjalanan kuliah, saya merasa penulis kurang detail dalam menggambarkan perjuangan akademiknya, selain terkesan ia hanya mendapatkan yang baik-baik saja. Dan satu lagi yang saya dapati di sini adalah penulis semasa kuliahnya tidak aktif berorganisasi, terkesan SO (Study Oriented). Padahal, kemampuan berorganisasi juga merupakan bekal dalam menjalani karir ke depannya. Hal ini terbukti ketika di awal bekerja, penulis merasa kikuk serta tidak luwes dalam bersosialisasi dengan rekan kerjanya.

Over all, dari novel ini saya mengambil pelajaran mengenai ketekunan, keberanian menembus batas kehidupan,serta cinta keluarga adalah konstrain yang bersifat mutlak.

Pendidikan dan cinta keluargalah yang menyelamatkan semuanya.

Oh ya satu lagi, saya masih penasaran mengenai siapa sebenarnya anak kecil berbaju putih dan bercelana merah yang sempat menemani dan selalu menjadi pendengar setia kisah hidup masa lalu penulis, ketika di Amerika itu.  Kenapa dia tiba-tiba muncul, tau segala hal, dan tiba-tiba ingin pergi.


January 12, 2012

!

impian harus menyala
dengan apapun
yang kita miliki


meskipun
yang kita miliki
tidak sempurna


meskipun
itu retak-retak






from 9 summers 10 autumns