Artha Ratu Nauli

An over-thinker. Adventurer.
Graduated as Petroleum engineer.
Super random person you'll ever meet.

September 13, 2018

Let Them Do Their Best (and so do I).

Saat memesan layanan yang sifatnya "service" , apalagi sejak ada aplikasi online yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan pemberi layanan, seringkali saya mengucapkan kepada mereka : "ok mas/mba. Do your best ya" atau "pokoknya tolong lakukan yg terbaik ya mas/mba". Tak perlu dicereweti. Tak perlu di-dikte sedemikian rupa.
Memberikan kepercayaan kepada mereka justru memberikan mereka ruang gerak yg nyaman dan psikologis yang membangun sehingga alam bawah sadar mereka pun mendorong mereka untuk melakukan yg terbaik.
Cita-cita terwujudnya peradaban yang professional harus diawali dengan PERCAYA, bahwa kita, berada ditengah masyarakat yang profesional. Percaya bahwa rekan kita akan melakukan tugasnya dengan cara dan usaha terbaik yang mereka bisa. Begitu juga kita.

May 23, 2014

Drama RST

Somebody wanna know what is go on my life recently? haa..?  *celingak - celinguk* ga ada. Baiklah. *tutup laptop*

Jadi dengan selesainya saya school 2 tahap, maka resmilah saya istilahnya incharge. Istilah ini buat engineer yang udah ditraining, dan bisa dilepas buat running job sendiri (well, dengan crew sih tentunya).

Nah karena sudah resmi incharge, abis off kemarin saya langsung disuruh buat ke mutiara/handil. Ini adalah lapangan yang berbeda dari lapangan yang biasanya yaitu badak. Kalau mutiara/handil ini, ga ada kantor kayak di badak. Jadi semua nya dikerjakan dari kamar hotel. Tapi hotelnya jangan dibayangkan kayak novotel, fourseasons, hilton, dan kawan - kawannya yah. Ini adalah penginapan sederhana gitu. Ya namanya juga di daerah. Tapi enak deh kamarnya. Homy... Saya jadi berasa lagi tidur di kamar rumahan.. Ibu dan mbaknya juga baikkk banget.. Jadi serasa di rumah.. *mellow :')

Nah, disini tadinya bareng frank, frank nya off, naik kahfi. Jadilah saya sekarang lagi bareng kahfi 'jaga warung' mutiara. Thank to internet penginapan yang lumayan. Jadi kerjaan (ngenet) lancaarrr jayaaaa..

Kerja gak di kantor alias di kamar gini jangan dikira santai lhoo.. ya santai sih.. pake baju tidur aja bisa langsung kerja. Tapiiii.. jadi ga ada waktu berenti kerjanya kecuali pas mau tidur. Kalau masih belum ngantuk, ya secara laptop ada di depan mata, adaaa aja yang di-kulik-kulik.  Bisa dibilang justru lebih kerja terus kalau di kamar begini. Kalau ga dipegang itu kerjaan, kepikiran. Takut ada yang missed.

Well, jadi tadi siang laptopnya kahfi entah kenapa agak mandek gitu, dia mau buka RST gabisa. Jadilah dia minta tolong saya buat bikin itu RST. Daaannn berhubung laptop ini baru diinstal ulang, saya gak ngeh kalau ternyata belum nginstal RST lagi. Ditambah belum nginstal yang buat ngeprint ke PDF juga. Duh! Urusan instal-instalan memang ga pernah bisa hinggap di kepala ini >,<

Akhirnya terpaksa deh si kahfi nginstalin dulu dan sebagainya. zzzzz artha-super ngerepotin-ratu nauli memang.

Tapi dari sini pelajaran yang diambil adalah, pertama dan yang pasti, harus ngeh dengan hal - hal kecil tapi penting, ya kayak primo pdf ini misalnya. Tapi bukan itu yang mau saya highlight, melainkan, cara Allah buat ngelindungi kita dan ngingetin kita tentang sesuatu, itu macem - macem ya.. intinya Allah itu sayaang sama kita dan akan dengan caraNYA ngasih tau kita akan hal - hal yang penting bagi kita.

Ya kayak kejadian ini, Allah mau ngasih tau dan ngingetin saya bahwa di laptop saya tuh belum instal RST dan primo pdf, tapi melalui mendeknya laptop kahfi. Kalau laptop kahfi lancar-lancar aja, mungkin saya masih gak ngeh ini kalau belum instal. Repot deh di kemudian hari pas lagi butuh buat kerja. See.... Allah ngasih taunya dengan caraNYA. Bisa secara langsung, maupun secara tidak langsung. Bisa straight, bisa dengan didahului 'drama' dulu. MashaAllah..Alhamdulilah.. terimakasih yaAllah. Cheeseee *pose dengan layar laptop terpampang RST* 

May 13, 2014

Fair

Semakin mendekati pemilihan presiden, semakin banyak opini – opini public, ataupun kabar burung yang beredar di berbagai media, tentang calon A, calon B, calon C, dan seterusnya. Mulai dari kabar lucu, sampai kabar yang aneh. Dan yang terakhir saya baca adalah artikel tentang status orangtua/keluarga salah satu calon presiden.
Sebut saja namanya Budi (bukan nama sebenarnya), nah di artikel itu disebutkan bahwa orangtua si budi beragama ‘x’ lah, ayahnya gak jelas lah, bahkan yang lucu, dan dibahas, ibunya si capres Budi yang gak mau nyebutin siapa ayahnya si Budi. Dan karena serentetan itu, maka si Budi tidak layak untuk dipilih jadi presiden. Loh.
Terlepas dari isu agama, yang saya highlight disini adalah, betapa tidak bijaksananya kita apabila hanya karena orangtuanya yang tidak jelas, orangtuanya yang buruk, lalu dengan serta merta mendiskreditkan seseorang, mem-vonis seseorang tidak baik, tidak capable, dan sebagainya. Bukan, saya bukan pendukung si capres Budi kok, yang saya bicarakan saat ini sudah diluar gossip tentang capres tersebut.
Kadang, ada orang, mungkin, tidak seberuntung yang lain, memiliki orangtua yang –dianggap- kurang baik. Ada orang yang tidak seberuntung yang lain, tidak jelas orang tuanya. Ada orang yang terlahir dari orangtua yang minim pendidikan. Ada orang yang lahir dari orangtua yang harus berpisah sejak ia kecil. Ada orang yang terlahir dari orangtua yang tidak saling mengakui satu sama lain. Ada orang yang lahir dari orangtua yang tidak menginginkan dia. Ada orang yang tidak seberuntung yang lain, yang bahkan ia tidak pernah mengenal siapa orangtuanya. Lantas, apakah kita bisa serta merta mem-vonis seseorang tersebut tidak baik? Tidak capable? Tidak berkualitas?
Apakah ia pernah meminta untuk terlahir dari orangtua yang seperti itu? Rasanya tidak. Tidak ada anak yang ‘request’ untuk lahir di tengah orangtua yang seperti apa.
Belajarlah untuk lebih fair dalam menilai seseorang. Kenali seseorang dari diri dan kapasitas orang itu sendiri. Don’t judge people unless you stand right on their shoes.

March 17, 2014

Ihdina s-siraata l-mustaqiim




“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Beberapa waktu terakhir ini entah kenapa kepikiran banget dengan ayat ini, khususnya Al-Fatihah:6.

Dalam sehari berapa kali coba kita memanjatkan kata-kata itu? minimal 17 kali! itu kalau yang shalatnya wajib doang 5 waktu, belum lagi kalau ditambah shalat sunnah. Berapa kali dalam sehari coba??

Pertanyaannya....... Are you serious? i mean, beneran lo:?

Jalan yang lurus itu yang seperti apa?

( اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ) ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus’ maksudnya: tuntunlah kami, bimbinglah kami dan arahkan kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang sangat jelas yang menghantarkan kepada Allah (Subhaanahu wa Ta’ala) dan kepada surga-Nya, yaitu mengetahui kebenaran dan melaksanakannya. Tunjukilah kami kepada jalan, maka petunjuk kepada jalan adalah konsisten terhadap agama Islam dan meninggalkan agama-agama selainnya, dan petunjuk kepada jalan adalah meliputi petunjuk kepada seluruh perincian-perincian agama baik ilmu maupun amalannya. Oleh karena itu, doa ini adalah termasuk doa yang paling lengkap dan paling berguna bagi seorang hamba, dengan demikian maka wajiblah atas manusia untuk berdoa kepada Allah (Subhaanahu wa Ta’ala) dengan doa itu dalam setiap rakaat shalatnya karena butuhnya dia terhadap hal tersebut,
وهذا الصراط المستقيم هو:
Dan jalan yang lurus itu adalah:

( صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ) من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين. ( غَيْرِ ) صراط ( الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ) الذين عرفوا الحق وتركوه كاليهود ونحوهم. وغير صراط ( الضَّالِّينَ ) الذين تركوا الحق على جهل وضلال, كالنصارى ونحوهم


( صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ) ‘[Yaitu] jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka’ dari para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin (orang-orang shalih), ( غَيْرِ ) ‘bukan’ jalan
( الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ) ‘mereka yang dimurkai’ yang mengetahui kebenaran namun meninggalkan kebenaran tersebut seperti Yahudi dan semisal mereka (i.e yang mengikuti jalan/sunnah mereka, red), dan bukan pula jalan ( الضَّالِّينَ ) ‘mereka yang sesat’ (yakni) orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan seperti Nashrani dan semisal mereka (i.e yang mengikuti jalan/sunnah mereka, red)

from here


Kenapa saya bilang begitu, soalnya gini, kita MINTA buat ditunjuki jalan yang lurus. Minta sampai berkali - kali dalam sehari. Pertanyaan lagi, kalian sadar gak sih kalau minta itu?

Sekarang kita minta -berkali - kali dalam sehari- jalan yang lurus. Dan Allah itu pasti mengabulkan permintaan hambaNYA kan. Nahh... Yang namanya petunjuk Allah itu bisa datang kapan aja, dimana aja, dan melalui apa/siapa aja. Sip.

Lalu, bagaimana kalau Allah sebenernya SUDAH mengabulkan doa kita itu, yaitu Allah tuh udah ngasih tau kita, Allah udah menunjuki kita jalan yang lurus.

TERUS KITANYA NGAPAIN??

Ibaratnya, tiap hari minta minta sesuatu. Giliran dikasih, eh malah ga diamalkan. Ga dikerjakan. Udah diberi tahu kalau "ini lho jalan yang lurus itu yang ini...", eh malah gak ditempuh jalannya.

Bingung gak sih,, kata Allah (permisalan aja), ini anak maunya apa sih. Minta minta ditunjuki jalan yang lurus, pas udah ditunjuki, gak mau nempuh. Maunya apasih.

So, sadarilah bahwa setiap hari kita tuh meminta agar ditunjuki jalan yang lurus.

Jadi, saat sebetulnya kita sudah berasa telah ditunjuki jalan yang lurus itu yang mana, maka tempuhlah.

Jangan jadi orang yang plin plan.

*ngomong sama diri sendiri*

Semoga kita semua diberi petunjuk jalan yang lurus, dan diberi kekokohan hati untuk menempuh jalan lurus tersebut. Aamiin.. :)

February 21, 2014

Tentang Mencari Pembenaran

Found this at This

Manusia cenderung mencari pembenaran dari teman2, kerabat, keluarga, dan para ahli untuk mencari dukungan untuk membenarkan hal yang dianggapnya "benar", padahal hati kecilnya tahu dan setuju kalau itu salah. Seakan mencari bala bantuan untuk memerangi hati kecilnya sendiri...

Manusia lebih senang mengingkari hati kecilnya yang dengan polos menunjuk salah-benar secara blak-blakan supaya ia dibenarkan terus.

Manusia lebih senang menutupi boroknya sampai busuk ketimbang perih sebentar selama diobati.

Sesungguhnya Anda sudah tahu apa yang tepat dan tidak tepat di dasar hati Adna yang paling dalam, namun pengetahuan itu terhalang ole keinginan egois dan mau memang sendiri. Andai saja setiap orang berhenti mencari pembenaran dari luar dan bersedia duduk sebentar mendengarkan suara hatinya...

PS : Saya jadi ingat kata seorang teman yang mengatakan kalau orang pada umumnya tidak bisa duduk tenang walau sesaat, karena ketika ia diam, hatinya mulai menunjuk-nunjuk siapa dia sebenarnya...


---

Tidak perlu berbantah-bantahan mengenai apa yang sejujurnya sudah diketahu bahwa itulah yang paling benar. Tidak perlu mencari pembenaran atas kesalahan. Just admit that 'well, it was my fault. All i've done was totally wrong'. Selesai. Biar setinggi apapun tembok untuk bersembunyi,  tetapi percayalah bahwa yang namanya nurani, yang Allah sudah pasang di setiap jiwa manusia, pasti akan berbicara. Mana yang seharusnya dilakukan, mana yang tidak.

Semoga Allah menunjuki kita jalan yang lurus. Yaitu jalan yang Allah ridhoi, bukan jalan yang Allah murkai. :)


January 28, 2014

Kekaguman akan Kepemimpinan






Picture from: kvltmagz.com
    

Salah satu hal yang pasti bakal bisa membuat saya selalu menangis adalah tiap kali baca blog nya bapak dahlan iskan. Ya, selalu nangis. Sampai ujung jilbab basah dan bisa diperas saking nangisnya. Terutama yang isinya tentang kerja keras dan semangat para pemimpin bumn untuk memajukan bahtera masing masing yang mereka pimpin.

Bagaimana kerja keras dirut garuda indonesia untuk membangkitkan garuda dari keterpurukan.
Garuda, secara mengejutkan, saat ini sudah lebih besar daripada Malaysia Airlines (MAS) dan Thai Airways, Thailand. Bahkan, sudah lebih besar daripada Air France! Value Garuda kini mencapai Rp 18 triliun. Sudah sekitar Rp 1 triliun lebih besar daripada MAS dan Thai. Dengan demikian, untuk Asia Tenggara kini Garuda tinggal kalah dari Singapore Airlines.

Kerja keras PT. KAI untuk melenggangkan kembali kereta api indonesia yang sempat terseok seok jalannya, hingga kini sudah sangat sangat jauhh lebih baik. Bahkan dirutnya sampai rela latihan senyum cuma agar dapat memberikan tampilan dan pelayanan sempurna, dalam satu package.

Kerja keras dirut PT. BatanTek untuk membangkitkan industri nuklir Indonesia.

Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI). Yang lagi semangat-semangatnya untuk mengembangkan diri. Terutama untuk menjadi micro banking terbesar di dunia. bahkan di tahun 2012, keuntungan BRI berhasil melampui keuntungan bank Mandiri.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia. Yang sedang pembenahan total di lima pabrik pupuk di indonesia.

Gula, Bulog, Hotel, dan lainnya yang tidak saya tuliskan disini, juga sedang berjuang keras memperbaiki diri.

Pertamina? Gak usah ditanya. Udah sering dan akan terus sering dibahas :)

Ya, saya yang selalu antusias dan kagum dengan sosok - sosok pemimpin, bukan hanya sekedar pemimpin pintar yang bersikap lika a boss dan sehari - hari menakuti bawahannya. Tetapi pemimpin yang ikut serta, berbaur, bekerja keras bersama seluruh staffnya. Turun tangan dan lumpur - lumpuran, ikut serta mendorong mobil yang ia kemudikan dikala mogok dan tidak dapat berjalan.

Pemimpin yang menunjukan prestasi prima, bukan prestasi prima dirinya melaikan prestasi prima dari instansinya. Adalah karena kesungguhan bekerja, semangat seluruh anggota team, dan pemimpin yang  membumi untuk mencari tau apa yang salah dan memperbaikinya.

Setiap kali membuka blognya dahlan iskan selalu sukses meneteskan air mata. Nangis saking kagumnya. Ya, mereka orang - orang hebat. Mereka orang - orang yang special. Mereka orang - orang yang luar biasa. Kagum dan wondering seberapa besar cinta yang mereka punya untuk yang dipimpinnya. Sangat besar, itu pasti. Difikir, fikir, capek lho menghandle suatu badan/organisasi tuh. Capek badan. Capek fikiran. Bahan bakar utamanya ya cinta. Cinta negeri.

Menjadi boss itu mudah. Menjadi tiran itu mudah. Tetapi menjadi pemimpin, itu lain hal.

Memimpin itu tidak mudah. Memimpin itu butuh tekad, ikhtiar, dan yang paling sulit, butuh cinta.

Mereka tidak mungkin bisa melakukan semua itu kalau mereka tidak mencintai apa yang mereka pimpin. Pemimpin adalah nahkoda. Pemimpin adalah pilot. Di kepala mereka sudah jelas peta jalan apa yang harus dilalui, jalur apa yang harus di tempuh, kendala apa yang mungkin saja dihadapi. Di tangan seorang pemimpin lah sebuah kapal dapat berlayar hingga mencapai pulau tujuan. Pemimpin berfikir tentang strategi, tetapi juga memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap semua teamnya. Pemimpin adalah tokoh sentral, yang bermakna ia harus memperhatikan ke atas (tujuan), ke bawah (staff), dan ke samping (relasi). 

Memimpin bukan menjadi raksasa yang ingin ditakuti. Mempimpin bukan menerkam. Memimpin bukan memarahi. Memimpin bukan menekan.

Memimpin berarti mengenal, mempelajari, merasakan, berkorban, merawat, mem-bersahabat-i, membawa ke arah lebih baik.

Mereka yang rela meninggalkan nyamannya rumah dan keluarga, untuk berkeliling dari satu kantor cabang ke kantor cabang yang lain. Yang rela tidak tidur untuk memikirkan perumusan suatu keputusan. Yang rela berletih letih menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Menahan hati dari terpaan tekanan dan ancaman. Tidak mungkin kalau tidak karena cinta.

Cinta. Itu variabel yang paling sulit dari memimpin. Dan pada mereka para pemimpin besar. Para pemimpin tangguh, alangkah besar cinta yang mereka miliki. Kepada meraka, salam hormat dari saya. Perjuanganmu tidak mudah. Jalanmu berat penuh pecahan kaca. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat, pertolongan, dan penjagaannya padamu.

Seperti katanya Ridwansyah Yusuf, mantan presiden KM ITB," seseorang bisa saja mencintai apa yang ia tidak pimpin, tetapi seseorang tidak dapat memimpin apa yang ia tidak cintai."

January 25, 2014

Tentang Kehausan Akan Ilmu


Kebutuhan manusia akan ilmu itu laksana kebutuhan manusia akan makanan dan minuman. Saat telah cukup lama tidak merima pengetahuan baru atau pengasahan dari kemampuan yang telah ada, rasanya akan sangat lapar.

Manusia itu butuh berinteraksi dengan apapun, alam, hewan, manusia lain, untuk dapat saling menambahkan ilmu satu sama lain.

Manusia itu butuh asupan pengetahuan.



January 03, 2014

Gak perlu ngotot untuk jadi diri sendiri, karena yang terpenting adalah jadi baik.

 
pict from tumblr.

Waktu saya masih ABG *iya.Skrg udah gak ABG. Well noted. Fine. Diem kalian semua!* rasanya seriiing sekali mendengar slogan ‘jadi diri sendiri ajah!’. Dan seterusnya saya juga sering mendengar ‘ya, biarin gue begini. Yang penting gue jadi diri sendiri’.
Sekarang semakin saya berfikir, semakin saya bertanya, apakah ‘menjadi diri sendiri’—saja, itu sudah cukup? Apakah itu pilihan terbaik?
Bagaimana kalau diri sendiri-nya saja masih belum baik.
Masihkah akan terus bertahan pada prinsip ‘menjadi diri sendiri’?
Hingga saya simpulkan bahwa, bukan menjadi diri sendiri yang terpenting, tetapi menjadi baiklah yang terpenting. Karena diri sendiri belum tentu sudah baik.
Baik. Sikap yang baik. Perilaku dan kebiasaan yang baik. Hati yang baik. Tutur kata baik. Penampilan baik. Pemikiran baik. Beragama dengan baik.
Kalau awal – awalnya ‘menjadi baik’ itu bukan diri lo, a.k.a ‘gak gue banget ini’, ya ndak apa – apa, hal baik terkadang memang berat untuk dilakukan pada awalnya. Tapi ingatlah bahwa kebaikan itu kekal. Oleh karena itu menurut saya menjadi baik lebih penting, terlepas apakah itu beneran diri sendiri atau bukan. Itu yang namanya melatih diri.
Hidup adalah proses. That's right. Dan yang namanya kebaikan memang kadang tidak ber-parameter. Oleh karena itu gunakan parameter baik, yang sesuai dengan ajaran agama. Baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Manusia sudah sifatnya terlalu banyak asumsi. Makanya ikuti baik menurut Allah,toh...
First you make habit, then habit makes you.
Mau jadi diri sendiri atau bukan, itu tidak begitu penting, karena yang terpenting pertama adalah, menjadi baik (yang sesuai dengan ajaran agama). 
Lama lama pasti akan terbiasa kok, asal dilakukan dengan konsisten. Setelah terbiasa, maka silahkan jadi diri sendiri, dengan diri yang sudah ter-install kebaikan.
Selamat menjadi baik. Jiwa - jiwa yang baik :)

November 30, 2013

Tentang Menyampaikan


Pernah ga ngalamin misalnya, saat kita menginstruksikan sesuatu pada seseorang, terus seseorang itu mengerjakan yang tidak sesuai dengan maksud dari instruksi kita. Nah, pada umunya, gimana sih respon spontan kita?
Contoh:
Isi fikiran kita: Budi, tolong buatkan secangkir teh.
Budi: Dateng ngebawain teh tapi gak pake gula.
Secara spontan reaksi kita:
a.       Diam saja
b.      Gak nangkep omongan gue ni orang.
Pada umumnya hal pertama yang terjadi adalah yang b. Seringkali kita langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak mengerti omongan kita. Atau dalam pemikiran ekstremnya:
1.      Ni orang gak ngerti omongan gue
2.      Ni orang gak focus
3.      Ni orang ngasal
4.      Ni orang bodoh.
Aduh jangan sampai deh kita buru-buru menyimpulkan orang lain seperti itu.

Coba, kita tuh biasain sebelum ‘marah’ sama orang, lihat dulu diri sendiri. Misalnya, sebelum kita kesel karena orang itu mengerjakan hal yang ternyata gak sesuai dengan apa yang kita instruksikan, lebih baik mikir dulu, bukannya tidak mungkin kalau justru kita lah yang tidak jelas dalam menyampaikan maksud fikiran kita.

Tanpa kita sadari, penyampaian kita adalah: Budi, tolong buatkan se#@$cang%^^*k28&i8^&$r t(#)#e&$h XBSIDUS%@$XU
atau
teh, teh apa? teh manis? teh tawar? teh es? teh susu? gak jelas gitu teh. aduh kumaha ieu teh...

Bisa jadi justru bahasa/kalimat kita yang semrawut sehingga tidak jelas tertangkap.

Bisa jadi kitanya yang tidak cukup cakap dalam mempersimpel kalimat kita, sehingga nyampenya di orang lain pun jadi tidak tepat..

Beda dokter bisa aja beda diagnosis. Beda geologist bisa aja jadi beda interpretasi. Beda reservoir engineer bisa jadi beda forecastnya. Beda manusia ya jelas bisa banget beda pemahaman.

Biasakan menggunakan kalimat sesimple mungkin. Dan gak perlu lah terlalu cepat meledak dan memberi respon spontan terhadap kesalahan orang lain. Karena bisa jadi  memang hulunya dari kita.

Aihgile.. asam garam kehidupan cooy #sedaappp

May 15, 2013

Sayap

Here we go.. 

Kini sayap anak burung itu telah selesai dirakit.
Ototnya telah bertulang, walau masih tulang rawan.
Saatnya pergi terbang..
tinggalkan sarang..

Datangi savana savana baru..

Satu per satu si anak burung mulai terbang tinggalkan sarang..

Ucapkan salam perpisahan sementara kepada sang induk,
lalu dengan patah patah perlahan mengepakkan sayap yg baru saja jadi..

Terbang diatas gelombang udara..




---
written on Feb 21, 2013. 
a late (unpublished, actually) notes.

December 04, 2012

Because YOU Love Me

For all those times YOU stood by me
For all the truth that YOU made me see
For all the joy YOU brought to my life
For all the wrong that YOU made right
For every dream YOU made come true
 

For all the love I found in YOU
I'll be forever thankful, ALLAH
YOU're the one who held me up
Never let me fall
YOU're the one who saw me through through it all


YOU give me strength when I was weak

YOU give me voice when I couldn't speak
YOU give my eyes when I couldn't see
YOU saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach
YOU gave me faith 'coz YOU believed 


I'm everything I am
Because YOU loved me


YOU gave me wings and made me fly

YOU touched my hand I could touch the sky
I lost my faith, YOU gave it back to me
YOU said no star was out of reach
YOU stood by me and I stood tall
I had YOUR love I had it all
I'm grateful for each day YOU gave me
Maybe I don't know that much
But I know this much is true
I was blessed because I was loved by YOU


YOU give me strength when I was weak

YOU give me voice when I couldn't speak
YOU give my eyes when I couldn't see
YOU saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach
YOU gave me faith 'coz YOU believed
 

I'm everything I am
Because YOU loved me


YOU were always there for me

The tender wind that carried me
A light in the dark shining your love into my life
YOU've been my inspiration
Through the lies YOU were the truth
My world is a better place because of YOU


YOU give me strength when I was weak

YOU give me voice when I couldn't speak
YOU give my eyes when I couldn't see
YOU saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach
YOU gave me faith 'coz YOU believed
 

I'm everything I am
Because YOU loved me


I'm everything I am

Because YOU loved me 


(from celine dion's song. Edited)


Terimakasih atas semua jalan dan pengalaman yang kau pilihkan untukku, Wahai Allah..

Alhamdulillah...

Segala syukur dan puji bagiMU..

 

November 07, 2012

Tentang Waktu...


Ada banyak kebahagiaan yang bahkan ada tepat di depan kening kita, namun akibat arus dunia, kita terlalu sibuk hingga tidak menyadari itu. Terhanyut dengan derasnya abu-abu kapitalis, yang membuat kita lupa bahwa kita punya harta berharga yang bahkan tidak bisa dibeli dengan angka. 

That's Family.

Apakah masih kurang bahagia, saat kita diberi kesempatan untuk melihat kedua orang tua kita tumbuh menua bersama.

Apakah kita masih kurang bahagia, disaat kita masih diberi waktu untuk menyaksikan adik-adik kita menjadi besar dan dewasa.

Syukuri orang tuamu masih ada. Syukuri bahwa kau masih diberi kesempatan untuk membahagiakan mereka secara langsung. Membuat mereka tertawa ataupun tersenyum bangga.

Syukuri bahwa kau masih diberi waktu untuk memberikan contoh yang baik bagi saudara-saudaramu.

You can buy a clock but not time.

Mungkin saat ini banyak diantara kita yang tinggal tidak dengan orang tua maupun saudara. Berada jauh di perantauan. Hubungi mereka. Hubungi orang tuamu secara berkala. Kita tidak pernah tau hingga bila diberi waktu. 

Kita mungkin bisa menciptakan momen bahagia, mengajak orang tua keliling dunia dan sebagainya. Namun kita tidak pernah bisa membawa kembali detik kehidupan yang telah lewat. Jangan sampai kita baru pulang saat rambut kedua orang tua kita memutih dan mereka telah sulit untuk berjalan. Kita tidak pernah tau bila tiba-tiba tekanan darah beliau naik.

Keep your parent 'near'. 

Dengan teknologi yang semakin canggih, selalu luangkan waktumu yang berharga itu, yang mungkin akan kau gunakan untuk membuat gebrakan-gebrakan pengguncang dunia, untuk sekedar menanyakan kabar keluargamu. Untuk sekedar menanyakan kabar ayah bagaimana apakah sakit pinggang ayah masih sering kambuh. Untuk sekedar menanyakan kabar bagaimana ibu apa masih sering batuk kalau udara sedang dingin. Ya pertanyaan-pertanyaan sederhana. Walaupun mungkin kita biasa melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam di forum-forum ilmiah. Namun kali ini, sedikit saja, tanyakan kabar orangtuamu..

Everybody's changing

Mungkin ke depannya juga kita akan berharap, diberi pasangan hidup yang kita dapat hidup bersamanya, tumbuh, dan menua dalam saling keterjagaan satu sama lain.

Kita berharap, di depan kita diberi waktu untuk menyaksikan anak-anak kita tumbuh, menyaksikan anak-anak kita melangkahkan jejak pertamanya, mengucapkan kata pertamanya, menjajaki tangga-tangga pendidikannya, menyaksikan anak-anak kita menemukan cintanya dan meraih impiannya.

Berbahagialah bagi yang masih diberi kesempatan untuk secara fisik bersama dengan orangtua dan keluarga. 

Menyaksikan kedua orang tua menua bersama dalam saling keterjagaan satu sama lain, itu emas..

Time flies. Really fast. And never come back.  

Semoga kita tidak pernah kehilangan momen berharga.

Bandung, november 7 2012.

November 05, 2012

Tentang Keinginan Dan Tindakan Kongkret

Berkata menginginkan sesuatu, tapi tidak ada implementasi kongkret terkait apa yang dikatakan, nilainya sama saja dengan nol koma. Belum satu.

Berkata ingin jadi memiliki sesuatu, tapi tidak melakukan tindakan kongkret untuk memperoleh itu, nilainya sama saja dengan nol koma. Belum satu.

Berkata haus, tapi tidak bergerak untuk memperoleh minum, misalnya ke dapur untuk mengambil air, atau ke warung untuk membeli minuman, atau yah apapunlah, jika tidak ada tindakan , hasilnya adalah kau akan tetap kehausan.
 
Siapa saja pasti bisa dengan mudahnya bilang, "gue pengen bantu orang", "gue pengen nolongin orang." Tapi saat tiba saatnya, ada orang yang secara nyata kesusahan di depan mata, apakah benar-benar akan membantu? Tak jarang meluncur kalimat-kalimat 'excuse' yang begitu halus, namun tetap saja intinya, mikir 10000 kali buat nolongin orang lain. Apakah itu sudah sesuai dengan apa yang diucapkan?

Segala hal diciptakan berpasang-pasangan. Bisa jadi benar.

Dan untuk setiap keinginan, tindakan-kongkret lah pasangannya. 


November 02, 2012

Kenapa?

Kalian kepikiran dan heran gak sih, atau di dunia ini cuma saya yang kepikiran sampai ga bisa tidur, ga bisa berkonsentrasi, sampai ga mood ngulik rumus TA , tentang kenapa Dona, suka banget pake jaslab kalau keliling kampus ITB? atau kenapa wakil presiden kita saat ini jarang banget berbicara ke publik, dan kenapa bapak penjual soto di belakang kampus ga beroperasi lagi.

Silahkan jawab sesukanya...

KARENA BUKAN ITU PERTANYAAN ASLINYA


Heran ga sih, kenapa beberapa nama-nama negara, oleh masyarakat kita malah di-Indonesiakan namanya? Di-Indonesiakan penyebutannya. Kenapa?

Tentu kita ga mau kan kalau ada orang lain yang seenaknya mengganti nama kita, penulisan nama kita yang kurang satu huruf aja kadang kita suka protes.. Apalagi kalau di-ubah-ubah?

Contohnya:

Kita sebut Polandia, padahal nama aslinya kan 'Polland', dan pengucapannya pun 'polla/en'.

Terus Perancis, kok ditulis P-e-r-a-n-c-i-s ? Padahal kan nama dia tuh 'française' atau bahasa internationalnya 'France'. Lalu kenapa kita dengan seenaknya nulis namanya dengan
p-e-r-a-n-c-i-s...

Korea Utara/ Korea Selatan. Memang, nama mereka tuh NorthKorea/South Korea, tapi ya itu namanya gitu... Kenapa harus di-translate?

Dan yang paling total adalah Pantai Gading, nama aslinya Côte d'Ivoire. Atau secara international disebut Ivory Coast. Lalu kenapa harus di-translate pake kamus inggris-indonesia menjadi 'Pantai Gading'?

Ya ini cuma pemikiran selewat aja sih, saya tidak terlalu paham mengenai ada atau tidak hukum mengenai aturan penamaan negara berdasarkan bahasa negara lain atau apapun...

Tapi kalau secara simpel,pemikiran dangkal aja nih, misalnya ada orang namanya Amir, itu kan dari bahasa Arab, yang kalau di-bahasaIndonesia-kan artinya pemimpin. Masa terus kita bisa panggil dia "hey pemimpin, maen yok."

Atau misalnya ada bule namanya Mr.Black. Ya masa kita panggil dia "mr.hitam". Gak gitu kan...

Jadi intinya gimana namanya ya panggil dan tulislah sesuai dengan nama dia... Kalau namanya Ivory Coast ya sebutnya Ivory Coast, kalau namanya France maka nyebut dan nulisnya ya France..


Kenapa harus di-traslate.... (?)




October 24, 2012

...


"Kadang manusia terlalu sombong karena merasa telah bersusah payah melakukan sesuatu. Dan ketika balasan tak dirasakannya, maka rasa kecewanya luar biasa.."

Mungkinkah rasa “kecewa” itu berawal dari kesombongan? *mengingat tausiyah seorang sahabat tentang ujub*


Untuk direnungkan... (dari Kak Naf TI-2007 )

 

October 11, 2012

:")

A trully bestfriend is sister. And a trully superhero is brother. :")

September 17, 2012

Kalau Sudah Menolong, Lantas Ngapain?

Menolong itu baik. Semua orang senang apabila ditolong, namun akan jauh lebih bahagia apabila menolong. Ga percaya? cobain aja.

Tangan di atas adalah lebih baik daripada tangan dibawah. Sampai disini sepaham kan?

Namun, pernah ga, denger ada yang menggerutu begini," ah.. kecewa deh sama sikapnya kok begitu ke gue..udah ditolongin juga padahal.." Pernah? ada yang ga pernah? atau ada ygang ngerasa pernah ngomong begitu? Sebelum negara api menyerang, mohon dihilangkan gerutuan seperti itu ya..

Saya sangat menaruh kekaguman pada setiap insan yang bersuka-cita menolong orang lain. Baik itu keluarga, teman, selingkuhan(?) , atau yah siapapun lah. Bagus.. Dalam agama manapun pasti diajarkan untuk menolong sesama, bukan?

Menolong adalah sikap terpuji. Asal menolong dalam hal yang tidak melanggar hukum dan agama ya. Nah, perlu dicatat, kalau perlu dibuat gede di kertas notes kuning lalu ditempal di dinding kamar, bahwa dengan menolong, bukan berarti serta merta kita boleh merasa superior daripada orang yang ditolong. Merasa superior, dalam arti kita jadi merasa lebih berpower daripada orang yang kita tolong itu. Dengan menolong, lalu merasa harus dihormati banget, harus dilayani, harus diberi sembah-sungkem atau well, you-name-it.

Memang, kalau melihat dari frame keseluruhan, penolong-dan ditolong, sekali lagi memang, sudah sepantasnya pihak yang ditolong 'tau diri', ya udah ditolong, sebagai bentuk rasa syukur, bersikap baik gitu ke penolong.. Itu dari segi pihak yang ditolong.. maka disini kita samakan frame memandang dulu ya... coba batasi framenya, yaitu 'hanya' dari segi penolong. Bukan yang ditolong. 

Kita, sebagai penolong, rasanya akan lebih baik kalau abis nolongin orang, yaudah. Ga perlu berharap lebih, berharap orang yang kita tolong bersikap begini, memberikan ini, itu, dan sebagainya.  Disinilah izinkan saya garis bawahi, bahwa menolong adalah menolong. Titik. Mengenai pihak yang ditolong akan memberi reward apa kepada kita, ya itu lain soal. Kalaupun kemudian dia bersikap super baik ke kita, super santun, ya Alhamdulillah... (walaupun memang idelanya begitu) Tapi kalau ternyata yang ada adalah diluar itu, bukan berarti kita boleh berkata " ah dia kok gitu sih? lupa ya kalau dulu pernah gue tolongin?" Hmmm.. menurut saya, ketika kita, sebagai si penolong melontarkan kalimat demikian, berarti masih ada yang kurang dalam niat kita. Masih ada yang perlu dibenahi dari hati kita. Terlihat justru sifat arogansi muncul--dan harus segera dihapus. Disini bukan berarti saya menyetujui sikap yang terkesan 'tidak tau berterimakasih' begitu lho.. Ingat kan frame awal kita--disisi si penolong aja..

Menurut saya, menolong itu ibarat meneteskan air di gurun pasir. Setelah sang bulir air jatuh, tetesan air itupun langsung lenyap dari pandangan kita. Masuk ke sela-sela pasir. Di pandangan kita sudah hilang, masuk, menelusup, sehingga tidak terlihat lagi. Namun yakinlah, di pandangan Tuhan, di pandangan semesta, tetesan air di antara pasir gurun tadi dinyatakan 'ada'. Ada di dalam pasir. Tak perlu khawatir akan setiap kebaikan yang telah diberi. Kebaikan itu akan tetap ada. Karena sekalipun dalam berbuat baik, hati kita harus tetap dijaga.

 Dan sesungguhnya setiap kebaikan pasti akan dibalas oleh Tuhanmu, yaitu dengan kebaikan yang lebih baik lagi.

Teruslah menolong. Lakukan apapun yang kau bisa. Menolong---tanpa arogansi.

August 25, 2012

(bukan) Sampah



Saat internet tidak berfungsi, haling melintang kabel-kabel putih ini tidak lebih dari sampah.

Saat makanan sudah berjamur, kadarluarsa, tidak dapat dikonsumsi lagi, maka makanan itu tidak lebih dari sekedar sampah.

Saat buku dengan topik semenarik mungkin, tapi di tulis dengan bahasa planet Pluto,bahasa yang tidak kalian pahami,sehingga tidak ada pelajaran yang dipetik, maka buku itu tidak lebih dari sekedar sampah, hmmm.. okay, ganjelan pintu.

Pelajaran: saat seseorang, dalam kondisi primanya, tidak dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, maka ia tidak lebih dari seoonggok daging hidup tak bermakna. Sampah? Bangkai berjalan mungkin.

Sebagaimana firman Allah, “ sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi sekitarnya.”

July 09, 2012

Less expectation (?)

Masih sibuk dengan TA, masih hectic dengan 'dari mana karir ini akan berhulu (namun yang pasti InsyaAllah di industri hulu) :)

Ngomong - ngomong tentang masa yang tengah saya dan teman-teman alami saat ini, yaitu starting point of career path. Bingung. Ada rasa gamang tersendiri. Namun yang pasti, penuh harapan. Ya, expectation. 

Bicara tentang expektasi, seringkali saya dengar orang-orang bilang, 'gak usah berekspektasi lebih, biar gak sakit kalau gak kesampean'... Well, sebagai sikap preventif, ya gapapa sih kalau memang memilih jalan itu, tapi kalau saya pribadi , ekspektasi rendah itu kok rasanya malah kurang greget gimanaa gitu.

Ekspektasi berarti harapan. Ya , harapan. Justru, menurut saya lho, ekspektasi itu harus setinggi-tingginya, karena itu bisa jadi bahan bakar semngat kita, bisa jadi modal percaya diri kita buat berjuang lebih. Kalau memang takut 'sakit' disaat ekspektasi kita tidak tercapai, kenapa kita tidak mempersiapkan jiwa kita untuk lebih tahan hempasan. Memasang semacam bantalan di tubuh agar ketika bukit impian yang sudah kita bangun tinggi akhirnya malah roboh balik menimpa, kita tidak terluka parah. Got what i mean?

Orang-orang besar, pasti berawal dari harapan mereka yang jauh lebih besar. Manusia besar mimpi. Manusia tidak akan menjadi apa-apa jika tidak punya harapan. Soekarno tidak akan sekeras itu menganyang belanda jika tidak mempunyai harapan tentang indonesia merdeka dan sejajar dengan bangsa lain di dunia. Alexander G. Bell tidak akan bersikukuh menemukan telepon kalau dia tidak punya harapan besar untuk mudahnya komunikasi. Amerika dan Rusia tidak akan sprint buat menunjukan kemajuan teknologi dan sainsnya kalau tidak punya giga harapan untuk jadi adikuasa di dunia. 

Harapan alakadarnya, ya jadinya juga akan alakadarnya. Bukankah Tuhan itu memberikan sesuai dengan persangkaan hambanya?
 
Jadi, bukan ekspektasimu yang harus diturunkan, melainkan mentalmu-lah yang harus disiapkan untuk menerima kemungkinan apapun yang terjadi.

Bemimpilah besar. Bangunlah harapan-harapan raksasa. Siaplah untuk jatuh terhempas sekalipun patah. Dan berbuatlah lebih besar lagi.

Jadi, masih memilih untuk less expectation? You determine. :)


June 25, 2012

Cuma 'cuma'.

Bagaimana sebuah kata bisa begitu berefek bagi keseluruhan kalimat.
Disini saya tiba-tiba kepikiran tentang kata 'cuma'. Ya, cuma 'cuma'.

Sering gak kalian perhatiin kalau kalimat yang diberi kata cuma, maka kalimat itu akan mengalami semacam 'decresing of value'. Penurunan nilai. Misalnya, saya ini 'cuma pedagang'. Saya 'cuma mahasiswa'. Hal ini 'cuma bercanda'. Dan sebagainya.  Padahal pedagang adalah profesi paling dianjurkan oleh Rasulullah. Mahasiswa adalah agen perubahan dan pembangunan bangsa bahkan dunia. Dan bercanda, bisa berdampak besar bagi kehidupan seseorang.

Kalau penggunaan kata 'cuma' itu layak, berarti apa bisa orang mengatakan 'maaf, saya cuma membunuh', 'tindakan saya kemaren cuma korupsi', 'kami cuma bersindikat', aneh? Ga pas kan? Ya.

Jadi, dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap sastra Indonesia, saya anjurkan untuk meminimalisir penggunaan kata 'cuma'. Karena tidak ada yang cuma 'cuma' di dunia ini. Segala hal itu berdampak. Segala hal itu punya sesuatu. Segala hal itu berakibat.Gak ada yang 'cuma'.


*coretan kecil dari otak yang selalu acak.