Artha Ratu Nauli

An over-thinker. Adventurer.
Graduated as Petroleum engineer.
Super random person you'll ever meet.

March 25, 2012

Bimbingan TA. 1'st meeting and sooo excited!

Hari ini (akhirnya) saya bimbingan TA. Setelah sekian lama selalu batal karena sang dosen yang super sibuk. Susah banget nyari waktu kosongnya. Baru sempet ketemu langsung hari ini deh. Kadang antara senang dan sedih juga sih kalau ketunda mulu. Sedih karena udah nyiapin banget,terus ga jadi. Senang karena bisa berakhir pekan. Hihihi...  FYI, sang dosen ada di Bandung cuma pasweekend. Huuaah...


Kalau mahasiswa bimbingan TA dengan dosen yang satu ini, dari angkatan-angkatan sebelum saya,memang jarang banget yang bimbingan di kampus. Nyaris selalu di Cigadung. Disana ada kantor yang sekaligus dijadikan 'basecamp' mahasiswa bimbingan TA beliau. Dan jadilah anak-anak yang TA dengan beliau dijuluki 'antek cigadung'. :D


Nah untuk bimbingan pertama ini, kami diminta menyiapkan State of The Art. Kerangka awal permasalahan yang akan kami angkat dalam Tugas Akhir kami. Dan saya, juga nyiapin laaah. Dan ternyata pas diperiksa, katanya state of the art-nya terlalu simpel. Perlu nyantumin statement-statementdari berbagai referensi lebih banyak lagi. Tapi overall topik yang saya ajukan disetujui. uuyeaahh....


Kalau nasehat dari dosen pembimbing, "buatlah Tugas Akhir yang tidak sembarangan. Berikan yang terbaik untuk Tugas Akhir anda. Karena Tugas Akhir (sarjana) hanya sekali seumur hidup. Gak harus terburu-buru, karena ini bukan kontes cepet-cepetan. Pastikan anda bangga dan puas ketika anda berhasil menyelesaikannya. Tunjukkan bahwa Tugas Akhir anda benar-benar terlihat ditulis oleh seorang sarjana."

:")


Semangat! Semangaaaat!

March 11, 2012

Mahasiswa SWASTA

Saya ga mau membahas mengenai perbedaan kampus negeri atau kampus swasta kok disini. Karena jaman sekarang nyaris ga da bedanya. Membahas mengenai tingginya biaya pendidikan tinggi di Indonesia, juga bukan. Atau nanti lah ya, mungkin suatu waktu saya akan bahas, tapi tidak saat ini. 


SWASTA disini adalah 'panggilan sayang' (penghalusan dari istilah 'guyonan' atau 'sindiran') buat mahasiswa tingkat akhir di ITB. SWASTA yang merupakan singkatan dari Sudah WAktunya Selesaikan TA (Tugas Akhir). Cukup manis bukan gelarnya. Masih kuliah, tapi sudah bergelar 'swasta'.


Nah. Berhubung saat ini saya sudah memasuki masa-masa akhir perkuliahan, maka dengan penuh suka-cita saya pun menerima penganugerahan gelar terhormat tersebut. Ya. SWASTA.  
Kakak SWASTA ngeri kaliiii....


Okay terimakasih.


Nah, sebagai swasta yang baik, apa sih yang harus dilakukan? Ya mengerjakan TA. Pasti. Tapi ga hanya itu. Di himpunan,atau organisasi lain yang ada di kampus, pada umumnya SWASTA sudah tidak memegang jabatan krusial lagi. Jadi tugasnya adalah memberikan bimbingan dan kontrol terhadap sistem yang tengah dijalankan oleh junior-juniornya.


Di organisasi di kampus saya, seperti himpunan ataupun unit, SWASTA sangat dihormati dan didengar suaranya. Maklum, mahasiswa SWASTA dianggap lebih sepuh (kok tua banget ya kesannya), lebih tau lah mengenai sistem karena ya memang lebih dulu terjun ke dalam sistem yang ada. Nah, dengan perlakuan yang begitu spesial dari junior-juniornya, saya akui terkadang ada beberapa swasta yang cenderung menjadi arogan, merasa argumennya selalu benar dan tak terbantah. Tapi lebih banyak kok yang justru sangat terbuka untuk membagi pengalaman dan ilmunya kepada junior. Bersikap lebih mengayomi.


Intinya, buat teman-teman SWASTA, marilah kita support adik-adik kita dalam menjalankan roda himpunan ataupun unit. Berikan selalu ilmu dan contoh-contoh positif kepada mereka, berdasarkan pengalaman yang sudah lebih dulu kita punya. 


Dan yang satu hal yang pasti, Hey, Sudah WAktunya Selesaikan TA ! :D

January 13, 2012

9 Summers 10 Autumns



Dari Kota Apel ke The Big Apple

"Bapakku, sopir angkot yang tidak dapat mengingat tanggal lahirnya. Dia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SMP. Sementara ibuku, tidak bisa menyelesaikan sekolahnya di SD. Dia cermin kesederhanaan yang sempurna. Empat saudara perempuanku adalah empat pilar kokoh. Di tengah kesulitan, kami hanya bisa bermain dengan buku pelajaran danmencari tambahan uang dengan berjualan pada saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang sayur di pasar. Pendidikanlah yang kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Cinta keluargalah yang akhirnya menyelamatkan semuanya."

Dengan latar belakang kehidupan keluarga yang terseok-seok, bertahan hidup yang mayoritas adalah dari uang pinjaman kerabat ataupun bekerja serabutan dengana gaji hanya cukup untuk makan, membuat ia terpaksa menghabiskan masa kecilnya tanpa mengenal mainan ataupun tamasya layaknya anak-anak lain, hanya bermain dengan bukupelajaran seadanya, di bawah temaram lampu 5 watt.
Sebuah novel besutan Iwan Setyawan ini menceritakan kisah hidupnya yang berasal dari keluarga 'kelas bawah'. Novel ini menggambarkan betapa keberanian melawan kenyataan yang ada -yang seringkali pahit- adalah sesuatu yang mutlak dilakukan untuk dapat merubah hidup. 

Serta doa dan komitmen diri untuk memajukan keluarga, menjadi mainpower baginya dalam menjalani hidup dan meraih sukses.

Dilihat dari gaya bercerita, novel ini menggunakan pola maju-mundur, dimana kisah hidupnya saat ini ia ceritakan dengan pola maju, dan kisah hidup masa lalunya ia selipkan dalam dialog hidup masa kininya. Cukup menarik, walau terkadang  seringkali saya merasa jenuh terhadap kalimat-kalimat yang ia gunakan sebagai pengantar ketika akan mulai memasuki kisah jaman dulunya. Di lain sisi, pemilihan gaya bahasa yang simple, membuat buku ini menjadi renyah untuk dibaca.

Dari segi perjalanan kuliah, saya merasa penulis kurang detail dalam menggambarkan perjuangan akademiknya, selain terkesan ia hanya mendapatkan yang baik-baik saja. Dan satu lagi yang saya dapati di sini adalah penulis semasa kuliahnya tidak aktif berorganisasi, terkesan SO (Study Oriented). Padahal, kemampuan berorganisasi juga merupakan bekal dalam menjalani karir ke depannya. Hal ini terbukti ketika di awal bekerja, penulis merasa kikuk serta tidak luwes dalam bersosialisasi dengan rekan kerjanya.

Over all, dari novel ini saya mengambil pelajaran mengenai ketekunan, keberanian menembus batas kehidupan,serta cinta keluarga adalah konstrain yang bersifat mutlak.

Pendidikan dan cinta keluargalah yang menyelamatkan semuanya.

Oh ya satu lagi, saya masih penasaran mengenai siapa sebenarnya anak kecil berbaju putih dan bercelana merah yang sempat menemani dan selalu menjadi pendengar setia kisah hidup masa lalu penulis, ketika di Amerika itu.  Kenapa dia tiba-tiba muncul, tau segala hal, dan tiba-tiba ingin pergi.


January 12, 2012

HAPPY BIRTHDAY, PAPA!



















Chronia Pola, Papa!
 12 januari 1960 sampai dengan detik ini :)

!

impian harus menyala
dengan apapun
yang kita miliki


meskipun
yang kita miliki
tidak sempurna


meskipun
itu retak-retak






from 9 summers 10 autumns