Artha Ratu Nauli

An over-thinker. Adventurer.
Graduated as Petroleum engineer.
Super random person you'll ever meet.

July 09, 2012

Less expectation (?)

Masih sibuk dengan TA, masih hectic dengan 'dari mana karir ini akan berhulu (namun yang pasti InsyaAllah di industri hulu) :)

Ngomong - ngomong tentang masa yang tengah saya dan teman-teman alami saat ini, yaitu starting point of career path. Bingung. Ada rasa gamang tersendiri. Namun yang pasti, penuh harapan. Ya, expectation. 

Bicara tentang expektasi, seringkali saya dengar orang-orang bilang, 'gak usah berekspektasi lebih, biar gak sakit kalau gak kesampean'... Well, sebagai sikap preventif, ya gapapa sih kalau memang memilih jalan itu, tapi kalau saya pribadi , ekspektasi rendah itu kok rasanya malah kurang greget gimanaa gitu.

Ekspektasi berarti harapan. Ya , harapan. Justru, menurut saya lho, ekspektasi itu harus setinggi-tingginya, karena itu bisa jadi bahan bakar semngat kita, bisa jadi modal percaya diri kita buat berjuang lebih. Kalau memang takut 'sakit' disaat ekspektasi kita tidak tercapai, kenapa kita tidak mempersiapkan jiwa kita untuk lebih tahan hempasan. Memasang semacam bantalan di tubuh agar ketika bukit impian yang sudah kita bangun tinggi akhirnya malah roboh balik menimpa, kita tidak terluka parah. Got what i mean?

Orang-orang besar, pasti berawal dari harapan mereka yang jauh lebih besar. Manusia besar mimpi. Manusia tidak akan menjadi apa-apa jika tidak punya harapan. Soekarno tidak akan sekeras itu menganyang belanda jika tidak mempunyai harapan tentang indonesia merdeka dan sejajar dengan bangsa lain di dunia. Alexander G. Bell tidak akan bersikukuh menemukan telepon kalau dia tidak punya harapan besar untuk mudahnya komunikasi. Amerika dan Rusia tidak akan sprint buat menunjukan kemajuan teknologi dan sainsnya kalau tidak punya giga harapan untuk jadi adikuasa di dunia. 

Harapan alakadarnya, ya jadinya juga akan alakadarnya. Bukankah Tuhan itu memberikan sesuai dengan persangkaan hambanya?
 
Jadi, bukan ekspektasimu yang harus diturunkan, melainkan mentalmu-lah yang harus disiapkan untuk menerima kemungkinan apapun yang terjadi.

Bemimpilah besar. Bangunlah harapan-harapan raksasa. Siaplah untuk jatuh terhempas sekalipun patah. Dan berbuatlah lebih besar lagi.

Jadi, masih memilih untuk less expectation? You determine. :)


July 06, 2012

Menulislah !

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah"-Pramoedya Ananta Toer

June 29, 2012

Heyhooooo

Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!
♥ “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. At Taubah: 40) ♥

Ber-Sabarlah
♥ “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153). ♥

Adukanlah semua itu kepada Allah,
♥ “Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5). ♥

Positive thinking
♥ “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6). ♥

Dzikrullah (Mengingat Allah) biar hati tentram
♥ “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28) ♥


so, take it easy….!!!


from: voa-islam.com



June 25, 2012

Cuma 'cuma'.

Bagaimana sebuah kata bisa begitu berefek bagi keseluruhan kalimat.
Disini saya tiba-tiba kepikiran tentang kata 'cuma'. Ya, cuma 'cuma'.

Sering gak kalian perhatiin kalau kalimat yang diberi kata cuma, maka kalimat itu akan mengalami semacam 'decresing of value'. Penurunan nilai. Misalnya, saya ini 'cuma pedagang'. Saya 'cuma mahasiswa'. Hal ini 'cuma bercanda'. Dan sebagainya.  Padahal pedagang adalah profesi paling dianjurkan oleh Rasulullah. Mahasiswa adalah agen perubahan dan pembangunan bangsa bahkan dunia. Dan bercanda, bisa berdampak besar bagi kehidupan seseorang.

Kalau penggunaan kata 'cuma' itu layak, berarti apa bisa orang mengatakan 'maaf, saya cuma membunuh', 'tindakan saya kemaren cuma korupsi', 'kami cuma bersindikat', aneh? Ga pas kan? Ya.

Jadi, dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap sastra Indonesia, saya anjurkan untuk meminimalisir penggunaan kata 'cuma'. Karena tidak ada yang cuma 'cuma' di dunia ini. Segala hal itu berdampak. Segala hal itu punya sesuatu. Segala hal itu berakibat.Gak ada yang 'cuma'.


*coretan kecil dari otak yang selalu acak.

June 14, 2012

Serahkan

Perjalanan ini, yang entah dimana dan bagaimana kelak akan bermuara (di dunia). 

Dengan menyebut nama Allah
Jalani hidupmu
Yakinkan niatmu
Jangan pernah ragu


Dengan menyebut nama Allah
Bulatkan tekadmu
Menempuh nasibmu
Kemanapun menuju


Serahkanlah hidup dan matimu
Serahkan pada Allah semata
Serahkan duka,gembiramu
Agar damai senantiasa 
Hatimu...


Menyerahkan, adalah tahapan terdalam dari segala daya upaya.
Kalau kita sudah memberikan semua yang dirasa pada Allah, Tuhan kamu -dengan keyakinan bahwa tidak ada yang mau menerima yang jelek- , maka pastilah Allah akan memberikan yang baik-baik, karena Tuhanmu itu baik dan Dia menyukai yang baik-baik: termasuk perasaan baik.

Satu pesan dari salah seorang dosen saya: "apapun yang terjadi, hati itu harus bersih"

Perjalanan ini, yang entah dimana dan bagaimana akan bermuara.