Artha Ratu Nauli

An over-thinker. Adventurer.
Graduated as Petroleum engineer.
Super random person you'll ever meet.

April 25, 2013

Etos

Everyone must have something that gives a big memories yet influences into their life. It maybe changes the way of life, puts a big impact, or even just lays a small spot.  

Pagi ini saya dikabarkan dengan kekalahan tim Barca saat bertemu dengan Bayern. Kekalahan yang cukup telak, katanya. Barca yang selama ini begitu dipuja dan dianggap tim terbaik pun akhir nya harus bertekuk lutut di depan Bayer. 4-0. Dunia twitter pun seru dan heboh paginya.  

Hal pertama yang saya ambil dari kejadian ini adalah, pertama, yang biasanya diatas, bukan berarti gak akan mungkin jatuh, segala sesuatu ada 'giliran' masing-masing. Yang kedua, saya kebayang aja gimana persiapan tim Bayern saat akan bertanding melawan Barca ini. Persiapan yang ekstra matang, dugaan saya. There must be an enermous preparation. Dan untuk ini saya ga terlalu heran sih kalaupun akhirnya Bayern menang. Etos kerja dan disiplin. It's Germany. Saya cukup tau gimana etos kerja dan disiplin orang-orangnya. 

Germany dan etos kerja + disiplinnya adalah poin yang satu paket.  

Salah satu mata  kuliah yang memberi big impact dalam hidup saya adalah Kapita Selekta Pemboran. Mata kuliah yang saya ambil selama satu semester, itu berkesan banget. Gimana gak berkesan, selama kuliah, okay, mungkin lima minggu pertama, hampir disetiap pertemuan yang dilangsungkan dua kali dalam seminggu itu,nangis. Haha ini bukan pelajaran drama ataupun sastra yang sedang mengupas tentang cinta, tapi.. 

Disini sama sekali saya tidak bermaksud menjelekkan atau menganggap itu negatif. Malah saya sangan bersyukur pernah mengambil mata kuliah ini. Sangat berterima kasih. Sangat senang. Sangat berkesan. Di mata kuliah ini, diajar oleh seorang dosen muda yang menjadi panutan saya. Beliau tegas, tapi asik. Cerdas dan kritis. Dan gaul. Dosen muda yang S1 nya di perminyakan ITB, dan S2, S3 nya di German.  
Disini seperti menjadi titik balik, atau, let say, pecutan buat saya, bahwa adalah penting itu kedisiplinan. Kerja keras. Etos kerja. Tidak menunda. Menghargai waktu.  

Ini emang salah satu kuliah pilihan, jadi sebenernya tidak wajib. Buat anak minyak yang interest-nya di dunia pemboran, rasanya kurang afdhol kalau ga ngambil mata kuliah ini. Kuliahnya di(h)ajar langsung oleh sang dosen muda idola saya. Diawal-awal perkuliahan, saya yang biasa santai, pemalas, tidak teliti dan kurang disiplin, 'kaget' dengan atmosfer kelas. Kelas tegang! Hahaha  

Saat itu rasanya kuliah seperti 'uji nyali'. Setiap kali pertemuan kami selalu membahas kasus - kasus yang terjadi di dunia teknologi pemboran. Pemboran minyak ya. Bukan pemboran air sumur. Hehe.. Kami dijejali dengan tons of assignments yang deadlinenya unik; misalnya harus dikumpul via email pukul 02.00 am. Read that: nol-dua-nol-nol malam. Dan itu harus 02.00 exact. Lewat satu menit? Well,hmmm ;p  Disini kami belajar tepat waktu. Menghargai waktu bukan saja berarti kami menghargai diri sendiri tapi juga berarti menghargai orang lain. 

Ada juga saat itu saya sedang tidak enak badan, lalu schedule kami hari itu adalah presentasi kasus yang memang sebelumnya sudah dibagi masing-masing. Saat itu beliau menunjuk saya untuk maju presentasi. Kemudian karena ngerasa ga enak badan (sebenernya pusing doang sih) dan takut hasilnya ga maksimal, saya bilang ke dosennya", maaf mas, saya sedang tidak enak badan, jadi mungkin yang lain saja dulu yang maju.."  Daaannn.. saya memperoleh 'wejangan' bahwa untuk menjadi orang sukses, no excuse, selagi ada kesempatan, mencoba adalah wajib. Dengan segenap kemampuan yang ada. Kalau pun hasilnya tidak maksimal, itu tidak masalah. Poin yang berharga adalah our eager to try. Our comitment to fight. (translated and edited) 
Mendapat wejangan seperti itu, saya seperti 'tersadarkan'. Dan diakhir kelas, saya temui beliau dan mengucapkan terimakasih yang amat sangat. 

Di hari lain, kami ditugaskan untuk membuat paper dengan standar international. Ya. Paper-dengan-standar-international. Paginya dikelas, paper kita pun dikumpul. Dicek satu persatu. Dan, you know, nasib paper kami adalah: ada yang disisihkan disamping, melayang ke udara, dicorat-coret dalam bahasa Germany, dsb. Sangat jauh dari kriteria international! Olala.. pait..pait... Tapi apa? disitu kami belajar bahwa dalam menciptakan sesuatu, membuat sesuatu, melakukan sesuatu, do the best. Give the best. Apabila melakukan sesuatu, maka lakukanlah dengan sepenuhnya. Do excellence. Push your self into the limit. No matter what it takes.
Di kelas, sang dosen juga selalu menceritakan kami tentang betapa orang di luar sana, terutama di Germany, disiplin. Bikin paper atau thesis, nyaris sempurna. Kerja keras. Dan mental baja.
 
Yah. Overall. Walalupun kelasnya serasa uji nyali, adu lari. Tapi saya berterima kasih atas segala pengajaran dan pelajaran di dalamnya. Tentang mental yang harus kuat, apalagi di dunia pemboran, mental kuat adalah syarat utama. Tentang disiplin. Kerja keras, kerja sempurna. Tentang harus siap sedia di kondisi dan saat apapun. Tentang wawasan yang harus luas. Tentang komitmen. Tentang profesionalitas. 

Dan pelajaran itu akan tetap saya bawa, entah sampai kapan.  



                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

April 11, 2013

Terima kasih, Ganesha!

Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. MY Graduation.

Sebagai mahasiswa, pasti wisuda adalah muara perjuangan yang dinanti-nantikan. Diperjuangkan dengan segala yang bisa dikerahkan.

Tepat 6 april 2013, saya wisuda. Akhir dari perjuangan di pendidikan strata pertama. Dan diberi kesempatan untuk menjadi lulusan dari kampus terbaik negeri ini, adalah salah satu syukur tak terhingga dalam hidup.

Perayaan wisuda di kampus terbaik ini terdiri dari 2 hari, yaitu pada H-1,malamnya, digelar wisnite, yaitu semacam malam perpisahan yang diadakan oleh himpunan dan program studi. Format acaranya bertema, pesta tentunya, dan dihadiri oleh seluruh teman-teman jurusan dari semua angkatan aktif dan dosen, juga bagi wisudawan, membawa keluarga dan orang-orang terdekat.

Wisnite diadakan di aula CC Timur, Kampus ITB. Dimulai dari pukul 19.00. Isi acara, ada penyambutan dari dosen, prosesi penyerahan cendramata dari himpunan ke wisudawan, pemutaran video kenangan, performance dari masing-masing angkatan, dan...tentunya makan-makan.

Lalu pada hari H, wisuda inti dan arak-arakan. Diawali dengan sidang terbuka yang dipimpin oleh rektor, dan diikuti oleh wisudawan serta orangtua. Berisi pengukuhan bahwa kami,secara resmi telah lulus dan memperoleh tanggung jawab baru, sebagai sarjana.

Saya, tentu saja mempersiapkan semuanya dengan sesempurna mungkin. Sesempurna yang saya bisa. Mulai dari mempersiapkan penampilan (pasti dooong) dan stamina. Nyari dress buat wisnite, kebaya buat hari H, sepatu cantik, make up, dsb. Capek? pasti. Ribet? tentu. Tapi untuk hari se-istimewa ini, apapun deh.



Setelah serangkaian acara inti, yang mungkin sama lah ya di kampus manapun. Selesai itu, adalah hal yang paling juga ditunggu-tunggu: arak-arakan! Jadi, setelah keluar dari gedung Sabuga, para wisduawan berkumpul dan kemudian dijemput oleh salah satu perwakilan dari massa himpunan, dan menggiring kami menuju masssa yang sudah menanti dan siap untuk mengarak kami. Arak-arakan mengitari kampus, hingga finish di himpunan.
Sepanjang jalan selama arak-arakan, yel yel tak henti dinyanyikan, salam ganesha, patramania, dan sebagainya. Sebagai ungkapan kebanggaan massa patra atas senior-seniornya yang wisuda. Asik.

Setibanya di himpunan, bukan selesai, melainkan ada sesi lain yang menunggu, yaitu PERANG AIR! PAra wisudawan dan massa patra saling lempar dan siram-siraman. Kotor-kotoran sih, tapi seru. Dan itu selalu kami lakukan setiap kali selesai arak-arakan wisuda. Semua senang. Semua bahagia. Dan semua BASAH!

Setelah itu, baru deh, ditutup dengan salam-salaman antara wisudawan dengan massa patra. Salah satu momen yang mengharukan. Betapa dulu kami yang ngelemparin wisudawan sampai basah kuyup, sekarang gilaran kami yang dilempari. Suasana mendadak berubah menjadi haru biru.

Waktu begitu cepat berlalu. Picture of memories bahkan masih bergelayut di mata, tentang perjuangan, tentang harapan, tentang kerja keras semasa kuliah. Yang sekarang, satu demi satu fase telah kami lalui. Wisuda. Bagi kami, para wisudawan, moment wisuda merupakan 'perayaan'nya para orang tua. Wisuda bukan saja berarti 'keberhasilan' kami dalam perjuangan tahap ini, tapi juga kemenangan orang tua, saudara, teman-teman, dosen, karena apa yang kami raih, adalah kumpulan perjuangan, dukungan, dan tentu saja doa mereka.


Kami juga sadar, wisuda bukan akhir, masih banyak perjuangan menanti di depan mata. Tentang bangsa yang menunggu kontribusi nyata. Tentang ilmu pengetahuan yang merongrong untuk terus dikejar. Tentang hidup yang selalu ingin dimaknai.

March 16, 2013

Bu Turi

Betapa haru, bahagia, dan bersyukur sekali rasanya saat kita mendapati bahwa tanpa kita tau, kita dicintai, kita di doakan…

Ini rabu kemarin, saat jam pulang kantor, saya bergegas ke kantin belakang kantor, tadinya mau bayar makanan gara-gara pas siangnya, beli, nyodorin uang bergambar tokoh proklamator, tapi teteh penjualnya ga punya uang kecil buat kembalian. Jadilah kata tetehnya bayar besok aja. Sore setelah  bel pulang, saya mikir bayar makanan tadi siang skrg aja ah, besok takut lupa. Ruang saya di lantai III, turun ke bawah, jalan ke belakang gedung kantor, lokasi kantinnya. Setengah jalan, baru inget kalau itu kantin kalau sore udah tutup. Balik badan. Mau pulang.

Nah disini nih, baru satu langkah setelah balik badan dan mengarah pulang, saya bertemu, lebih tepatnya disapa, oleh ibu ini..

Ibu (I) :Neng! Neng! Udah masuk kerja?
Dengan senyum dan setengah berteriak kecil dia menyapa. Ya walaupun statusnya setengah berteriak, tapi tetap aja suaranya kecil.

Artha (A): e? (ngeliat ke arah si ibu, bingung). Oh, udah pulang,bu. (Sambil mikir ini si ibu pikun kali ya jam segini nanyain masuk kerja. Duh maaaffffff ibuuu)

I :Udah masuk kerja? (nanya lagi)
A: eeng… (makin bingung. mulai  system eror di otak)
I: Ini ibu yang adek tolong dulu..yang pas ibu lagi duduk disana (sambil menunjuk ke suatu tempat)
A: oh iya bu saya inget. (berjalan mendekat ke si ibu). Ibu apa kabar?
I: Baik dek. Gimana udah masuk kerja? Dulu kan adek minta doain biar keterima kerja. Skrg ibu sama suami ibu doain adek terus tiap hari.. Tiap hari ibu sama suami ibu wirid di masjid sini. Ibu dan suami ibu doain adek terus tiap wirid..
A: :O (gabisa berkata-kata, Mau nangis)
I: Ibu lupa nanya nama adek. Adek namanya siapa? Biar ibu bisa lengkap doainnya.. Selama ini tiap wirid, ibu sama suami ibu cuma nyebut “adek-yg kemarin” aja dalam doanya..
A: (merinding haru) engg…nama saya Artha,bu… Nama ibu siapa?
I: Turi. (sambil terus senyum)
A: ooh bu Turi. Waahh makasih yaa bu udah doain saya..
I: iyadek.. Sudah lama ibu nunggu-nunggu bisa ketemu adek lagi. Soalnya mau nanya namanya..
A: (senyum)

Beberapa menit saya ngobrol dengan Bu Turi ini, tentang dia tinggal dimana, sehari-  hari kerja apa, anaknya, dan sebagainya. Dari situ saya tau bahwa ternyata sehari-hari ibu ini ya memulung sampah di kantor. Botol-botol dan plastik bekas beliau kumpulkan untuk kemudian dijual..
Bu Turi, perawakannya kurus kecil. Kulitnya cokelat muda. Kalau dilihat cukup bersih untuk seorang pencari botol plastik.

A: ibu rumahnya dimana?
I: Dekat sini dek. Dibalik tembok ini (sambil menunjuk ke suatu arah)
A: Suami ibu kerja apa,bu?
I: suami saya ga kerja, dek. Udah lama sakit usus buntu, mau berobat ndak punya biaya.. Jadi ya di rumah aja sambil wirid… Makanya suami ibu wiridnya juga doain adek.. biar  cepat dapat kerja.. murah rezeki… diberi kebahagiaan..
A: (rasanya mau pingsan saking terharunya). Hmmm..kalau anak ibu?
I: anak saya smp..
A: Ibu sehari ngumpulin botol dan plastik ini dapet berapa, bu?
I: Sepuluh ribu, dek.. Tapi biasanya abis buat beli obat bapak.. Tapi seminggu biasanya rata-rata 50 ribu..
A: (sambil mikir, seminggu lima puluh  ribu, berarti sebulan dua ratus ribu) Ooo.. iya deh bu.. semoga kita bisa terus bersilaturahmi ya,bu…
I: iya dek.. (senyum)

Akhir kata saya pun pamit pulang. Dan si ibu, kembali dengan karung berisi botol dan plastiknya. Dari yang saya amati, tak tampak kesedihan di wajah keriputnya. Hanya ada senyum dan rona ketegaran.

Bantuan yang tempo hari saya berikan sama sekali ga ada apa-apa nya dibanding dengan doa yang ibu dan suaminya panjatkan setiap hari buat saya. Bukan saya yang menolong ibu itu melainkan ibu itu lah yang telah dan akan menolong saya.

Sepanjang perjalanan pulang  yang difikiran saya adalah dicintai dan didoakan oleh orang ‘lemah’ itu anugrah dan terimakasih Ya Allah untuk itu. Dan untuk si ibu,  semoga dalam waktu dekat saya bisa bantu kasih solusi untuk masalahnya, terutama mengenai suaminya yang sedang sakit usus buntu dan butuh operasi serta pengobatan segera. InsyaAllah soon yaa bu..



Tentang KAI

Bepergian setiap wiken adalah salah satu nikmat Allah yang diberi ke saya saat ini. Dan moda transportasi favorit adalah kereta!

Tapi pada sadar ga sih, kalau PT. KAI saat ini berbenah sekali. Saya memang bukan pengamat pekat layaknya orang-orang yang diundang ke media-media berita, tapi kalau berdasarkan pandangan saya, yang tentu saja dari sudut pandang awam, beberapa hal yang dapat saya anggap sebagai bukti effort berbenah KAI seperti:
      
       Bersih.

Ini yang pertama saya catat saat beberapa kali menggunakan kereta saat bepergian. Bersih. Kalau dulu, lupa beberapa tahun yang lalu, di lantai-dinding stasiun penuh dengan coretan, sampah, dan segala macam benda tak enak dilihat lainnya. Tapi sekarang, lantai bersih, bahkan kalau mau selonjoran di lantai stasiun pun rasanya ga terlalu masalah. Petugas kebersihan selalu terlihat dengan ‘aksi’ bersih-bersihnya. Ga cuma di stasiun, tapi di dalam gerbong pun sudah dapat dikatakan bersih. Gerbong selalu di bersihkan sebelum penumpang naik dan kereta berangkat.

2.       Rapi

Rapi disini saya lihat berdasarkan pemposisian beberapa fasilitas yang tidak berantakan. Tempat duduk untuk menunggu dapat digunakan sesuai fungsinya dan diletakkan dengan posisi yang layak. Tempat sampah, papan informasi, semua diposisikan dengan layak.

3.       Ramah dan kooperatif

Petugas yang ditemui baik di stasiun maupun di dalam gerbong juga sudah menerapkan prinsip ‘penumpang adalah raja’. Sudah tidak ada lagi petugas yang jutek saat ditanyai. Beberapa kali saya sempat harus berurusan dengan petugas, bahkan untuk hal kecil seperti menanyakan lokasi toilet atau di jalur mana kereta yang akan saya tumpangi. Overall semua dijawab dan diarahkan dengan ramah.

4.       Ontime

Beberapa kali naik kereta, rasanya hampir semua keberangkatan tepat waktu sesuai dengan yang tertera pada tiket.Ya kalaupunberbeda, biasanya hanya beda 5-10 menit (delay maks 10 menit untuk keberangkatan masih boleh diberi excuse lah ya?)

5.       Wifi

Di beberapa stasiun saat ini juga telah dilengkapi dengan wifi. Stasiun yang (katanya) telah dilengkapi wifi seperti Gambir, Sudirman, Kota. Walaupun saya belum pernah mencoba fasilitas wifinya sih.

6.       Nyaman

Nyaman mungkin adalah hasil dari asosiasi poin-poin tadi. Perubahan berikutnya yang langsung kita lihat adalah hanya penumpang yang boleh masuk ke area peron stasiun. Jadi penumpang akan diperiksa kartu identitasnya. Nama yang tertera dalam tiket harus sama dengan kartu identitasnya. Ini otomatis membuat orang yang punya akses ke area peron menjadi lebih sedikit, karena pengantar maupun yang tidak berkepentingan tidak bisa masuk lagi.  Artinya penumpang bisa lebih nyaman menunggu kereta dan keamanan tentunya relatif lebih baik. Yang pasti, nyaman karena saa tini yang boleh masuk ke ruang tunggu hanyalah penumpang, sehingga ruang tunggu bisa sedikit terbebaskan dari jejal-jejalan manusia (yang seringkali banyakan pengantar daripada penumpangnya).

Bagaimana dengan di atas kereta?

Ada beberapa hal yang dapat dicatat mengenai membaiknya kenyamanan di atas kereta:
- Tidak ada lagi penumpang berdiri, terutama untuk rute jauh.
- Informasi bahwa tidak adalagi penyajian makanan gratis terlihat jelas
- Larangan merokok di atas kereta
- Kereta terlihat bersih, ac dingin.
- Tidak ada lagi pedagang yang bisa keluar masuk.

Ya itu sih beberapa hal yang saya amati dan rasakaan langsung sebagai penumpang KAI. Tentunya KAI saat ini telah lebih ‘custumer oriented’, seperti pengkhususan stasiun, desain dan penataan stasiun yang lebih ramah untuk pandangan, kebersihan, pelayanan, dansebagainya.
Progres berbenah KAI, dan tentunya seluruh lembaga negara ini. Salah satu pesan dan semangat positif bahwa bangsa ini dapat bangkit dan terus menjadi lebih baik.