Artha Ratu Nauli

A woman. First daughter in family. An over-thinker. Adventurer. Dessert lover.
An engineer graduated from Petroleum Engineering ITB 2008.
Super random person you'll ever meet.

June 25, 2012

Cuma 'cuma'.

Bagaimana sebuah kata bisa begitu berefek bagi keseluruhan kalimat.
Disini saya tiba-tiba kepikiran tentang kata 'cuma'. Ya, cuma 'cuma'.

Sering gak kalian perhatiin kalau kalimat yang diberi kata cuma, maka kalimat itu akan mengalami semacam 'decresing of value'. Penurunan nilai. Misalnya, saya ini 'cuma pedagang'. Saya 'cuma mahasiswa'. Hal ini 'cuma bercanda'. Dan sebagainya.  Padahal pedagang adalah profesi paling dianjurkan oleh Rasulullah. Mahasiswa adalah agen perubahan dan pembangunan bangsa bahkan dunia. Dan bercanda, bisa berdampak besar bagi kehidupan seseorang.

Kalau penggunaan kata 'cuma' itu layak, berarti apa bisa orang mengatakan 'maaf, saya cuma membunuh', 'tindakan saya kemaren cuma korupsi', 'kami cuma bersindikat', aneh? Ga pas kan? Ya.

Jadi, dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap sastra Indonesia, saya anjurkan untuk meminimalisir penggunaan kata 'cuma'. Karena tidak ada yang cuma 'cuma' di dunia ini. Segala hal itu berdampak. Segala hal itu punya sesuatu. Segala hal itu berakibat.Gak ada yang 'cuma'.


*coretan kecil dari otak yang selalu acak.

2 Kommentarer:

Dito Kurniawan

Kak,tulisannya bagus-bagus yah
:)

Artha Ratu Nauli

aaaww terimakasih dito.. salam kenal yaa :)