Artha Ratu Nauli

A woman. First daughter in family. An over-thinker. Adventurer. Dessert lover.
An engineer graduated from Petroleum Engineering ITB 2008.
Super random person you'll ever meet.

September 17, 2012

Kalau Sudah Menolong, Lantas Ngapain?

Menolong itu baik. Semua orang senang apabila ditolong, namun akan jauh lebih bahagia apabila menolong. Ga percaya? cobain aja.

Tangan di atas adalah lebih baik daripada tangan dibawah. Sampai disini sepaham kan?

Namun, pernah ga, denger ada yang menggerutu begini," ah.. kecewa deh sama sikapnya kok begitu ke gue..udah ditolongin juga padahal.." Pernah? ada yang ga pernah? atau ada ygang ngerasa pernah ngomong begitu? Sebelum negara api menyerang, mohon dihilangkan gerutuan seperti itu ya..

Saya sangat menaruh kekaguman pada setiap insan yang bersuka-cita menolong orang lain. Baik itu keluarga, teman, selingkuhan(?) , atau yah siapapun lah. Bagus.. Dalam agama manapun pasti diajarkan untuk menolong sesama, bukan?

Menolong adalah sikap terpuji. Asal menolong dalam hal yang tidak melanggar hukum dan agama ya. Nah, perlu dicatat, kalau perlu dibuat gede di kertas notes kuning lalu ditempal di dinding kamar, bahwa dengan menolong, bukan berarti serta merta kita boleh merasa superior daripada orang yang ditolong. Merasa superior, dalam arti kita jadi merasa lebih berpower daripada orang yang kita tolong itu. Dengan menolong, lalu merasa harus dihormati banget, harus dilayani, harus diberi sembah-sungkem atau well, you-name-it.

Memang, kalau melihat dari frame keseluruhan, penolong-dan ditolong, sekali lagi memang, sudah sepantasnya pihak yang ditolong 'tau diri', ya udah ditolong, sebagai bentuk rasa syukur, bersikap baik gitu ke penolong.. Itu dari segi pihak yang ditolong.. maka disini kita samakan frame memandang dulu ya... coba batasi framenya, yaitu 'hanya' dari segi penolong. Bukan yang ditolong. 

Kita, sebagai penolong, rasanya akan lebih baik kalau abis nolongin orang, yaudah. Ga perlu berharap lebih, berharap orang yang kita tolong bersikap begini, memberikan ini, itu, dan sebagainya.  Disinilah izinkan saya garis bawahi, bahwa menolong adalah menolong. Titik. Mengenai pihak yang ditolong akan memberi reward apa kepada kita, ya itu lain soal. Kalaupun kemudian dia bersikap super baik ke kita, super santun, ya Alhamdulillah... (walaupun memang idelanya begitu) Tapi kalau ternyata yang ada adalah diluar itu, bukan berarti kita boleh berkata " ah dia kok gitu sih? lupa ya kalau dulu pernah gue tolongin?" Hmmm.. menurut saya, ketika kita, sebagai si penolong melontarkan kalimat demikian, berarti masih ada yang kurang dalam niat kita. Masih ada yang perlu dibenahi dari hati kita. Terlihat justru sifat arogansi muncul--dan harus segera dihapus. Disini bukan berarti saya menyetujui sikap yang terkesan 'tidak tau berterimakasih' begitu lho.. Ingat kan frame awal kita--disisi si penolong aja..

Menurut saya, menolong itu ibarat meneteskan air di gurun pasir. Setelah sang bulir air jatuh, tetesan air itupun langsung lenyap dari pandangan kita. Masuk ke sela-sela pasir. Di pandangan kita sudah hilang, masuk, menelusup, sehingga tidak terlihat lagi. Namun yakinlah, di pandangan Tuhan, di pandangan semesta, tetesan air di antara pasir gurun tadi dinyatakan 'ada'. Ada di dalam pasir. Tak perlu khawatir akan setiap kebaikan yang telah diberi. Kebaikan itu akan tetap ada. Karena sekalipun dalam berbuat baik, hati kita harus tetap dijaga.

 Dan sesungguhnya setiap kebaikan pasti akan dibalas oleh Tuhanmu, yaitu dengan kebaikan yang lebih baik lagi.

Teruslah menolong. Lakukan apapun yang kau bisa. Menolong---tanpa arogansi.

0 Kommentarer: