Artha Ratu Nauli

A woman. First daughter in family. An over-thinker. Adventurer. Dessert lover.
An engineer graduated from Petroleum Engineering ITB 2008.
Super random person you'll ever meet.

January 28, 2014

Kekaguman akan Kepemimpinan






Picture from: kvltmagz.com
    

Salah satu hal yang pasti bakal bisa membuat saya selalu menangis adalah tiap kali baca blog nya bapak dahlan iskan. Ya, selalu nangis. Sampai ujung jilbab basah dan bisa diperas saking nangisnya. Terutama yang isinya tentang kerja keras dan semangat para pemimpin bumn untuk memajukan bahtera masing masing yang mereka pimpin.

Bagaimana kerja keras dirut garuda indonesia untuk membangkitkan garuda dari keterpurukan.
Garuda, secara mengejutkan, saat ini sudah lebih besar daripada Malaysia Airlines (MAS) dan Thai Airways, Thailand. Bahkan, sudah lebih besar daripada Air France! Value Garuda kini mencapai Rp 18 triliun. Sudah sekitar Rp 1 triliun lebih besar daripada MAS dan Thai. Dengan demikian, untuk Asia Tenggara kini Garuda tinggal kalah dari Singapore Airlines.

Kerja keras PT. KAI untuk melenggangkan kembali kereta api indonesia yang sempat terseok seok jalannya, hingga kini sudah sangat sangat jauhh lebih baik. Bahkan dirutnya sampai rela latihan senyum cuma agar dapat memberikan tampilan dan pelayanan sempurna, dalam satu package.

Kerja keras dirut PT. BatanTek untuk membangkitkan industri nuklir Indonesia.

Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI). Yang lagi semangat-semangatnya untuk mengembangkan diri. Terutama untuk menjadi micro banking terbesar di dunia. bahkan di tahun 2012, keuntungan BRI berhasil melampui keuntungan bank Mandiri.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia. Yang sedang pembenahan total di lima pabrik pupuk di indonesia.

Gula, Bulog, Hotel, dan lainnya yang tidak saya tuliskan disini, juga sedang berjuang keras memperbaiki diri.

Pertamina? Gak usah ditanya. Udah sering dan akan terus sering dibahas :)

Ya, saya yang selalu antusias dan kagum dengan sosok - sosok pemimpin, bukan hanya sekedar pemimpin pintar yang bersikap lika a boss dan sehari - hari menakuti bawahannya. Tetapi pemimpin yang ikut serta, berbaur, bekerja keras bersama seluruh staffnya. Turun tangan dan lumpur - lumpuran, ikut serta mendorong mobil yang ia kemudikan dikala mogok dan tidak dapat berjalan.

Pemimpin yang menunjukan prestasi prima, bukan prestasi prima dirinya melaikan prestasi prima dari instansinya. Adalah karena kesungguhan bekerja, semangat seluruh anggota team, dan pemimpin yang  membumi untuk mencari tau apa yang salah dan memperbaikinya.

Setiap kali membuka blognya dahlan iskan selalu sukses meneteskan air mata. Nangis saking kagumnya. Ya, mereka orang - orang hebat. Mereka orang - orang yang special. Mereka orang - orang yang luar biasa. Kagum dan wondering seberapa besar cinta yang mereka punya untuk yang dipimpinnya. Sangat besar, itu pasti. Difikir, fikir, capek lho menghandle suatu badan/organisasi tuh. Capek badan. Capek fikiran. Bahan bakar utamanya ya cinta. Cinta negeri.

Menjadi boss itu mudah. Menjadi tiran itu mudah. Tetapi menjadi pemimpin, itu lain hal.

Memimpin itu tidak mudah. Memimpin itu butuh tekad, ikhtiar, dan yang paling sulit, butuh cinta.

Mereka tidak mungkin bisa melakukan semua itu kalau mereka tidak mencintai apa yang mereka pimpin. Pemimpin adalah nahkoda. Pemimpin adalah pilot. Di kepala mereka sudah jelas peta jalan apa yang harus dilalui, jalur apa yang harus di tempuh, kendala apa yang mungkin saja dihadapi. Di tangan seorang pemimpin lah sebuah kapal dapat berlayar hingga mencapai pulau tujuan. Pemimpin berfikir tentang strategi, tetapi juga memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap semua teamnya. Pemimpin adalah tokoh sentral, yang bermakna ia harus memperhatikan ke atas (tujuan), ke bawah (staff), dan ke samping (relasi). 

Memimpin bukan menjadi raksasa yang ingin ditakuti. Mempimpin bukan menerkam. Memimpin bukan memarahi. Memimpin bukan menekan.

Memimpin berarti mengenal, mempelajari, merasakan, berkorban, merawat, mem-bersahabat-i, membawa ke arah lebih baik.

Mereka yang rela meninggalkan nyamannya rumah dan keluarga, untuk berkeliling dari satu kantor cabang ke kantor cabang yang lain. Yang rela tidak tidur untuk memikirkan perumusan suatu keputusan. Yang rela berletih letih menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Menahan hati dari terpaan tekanan dan ancaman. Tidak mungkin kalau tidak karena cinta.

Cinta. Itu variabel yang paling sulit dari memimpin. Dan pada mereka para pemimpin besar. Para pemimpin tangguh, alangkah besar cinta yang mereka miliki. Kepada meraka, salam hormat dari saya. Perjuanganmu tidak mudah. Jalanmu berat penuh pecahan kaca. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat, pertolongan, dan penjagaannya padamu.

Seperti katanya Ridwansyah Yusuf, mantan presiden KM ITB," seseorang bisa saja mencintai apa yang ia tidak pimpin, tetapi seseorang tidak dapat memimpin apa yang ia tidak cintai."

0 Kommentarer: