Artha Ratu Nauli

A woman. First daughter in family. An over-thinker. Adventurer. Dessert lover.
An engineer graduated from Petroleum Engineering ITB 2008.
Super random person you'll ever meet.

January 13, 2012

9 Summers 10 Autumns



Dari Kota Apel ke The Big Apple

"Bapakku, sopir angkot yang tidak dapat mengingat tanggal lahirnya. Dia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SMP. Sementara ibuku, tidak bisa menyelesaikan sekolahnya di SD. Dia cermin kesederhanaan yang sempurna. Empat saudara perempuanku adalah empat pilar kokoh. Di tengah kesulitan, kami hanya bisa bermain dengan buku pelajaran danmencari tambahan uang dengan berjualan pada saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang sayur di pasar. Pendidikanlah yang kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Cinta keluargalah yang akhirnya menyelamatkan semuanya."

Dengan latar belakang kehidupan keluarga yang terseok-seok, bertahan hidup yang mayoritas adalah dari uang pinjaman kerabat ataupun bekerja serabutan dengana gaji hanya cukup untuk makan, membuat ia terpaksa menghabiskan masa kecilnya tanpa mengenal mainan ataupun tamasya layaknya anak-anak lain, hanya bermain dengan bukupelajaran seadanya, di bawah temaram lampu 5 watt.
Sebuah novel besutan Iwan Setyawan ini menceritakan kisah hidupnya yang berasal dari keluarga 'kelas bawah'. Novel ini menggambarkan betapa keberanian melawan kenyataan yang ada -yang seringkali pahit- adalah sesuatu yang mutlak dilakukan untuk dapat merubah hidup. 

Serta doa dan komitmen diri untuk memajukan keluarga, menjadi mainpower baginya dalam menjalani hidup dan meraih sukses.

Dilihat dari gaya bercerita, novel ini menggunakan pola maju-mundur, dimana kisah hidupnya saat ini ia ceritakan dengan pola maju, dan kisah hidup masa lalunya ia selipkan dalam dialog hidup masa kininya. Cukup menarik, walau terkadang  seringkali saya merasa jenuh terhadap kalimat-kalimat yang ia gunakan sebagai pengantar ketika akan mulai memasuki kisah jaman dulunya. Di lain sisi, pemilihan gaya bahasa yang simple, membuat buku ini menjadi renyah untuk dibaca.

Dari segi perjalanan kuliah, saya merasa penulis kurang detail dalam menggambarkan perjuangan akademiknya, selain terkesan ia hanya mendapatkan yang baik-baik saja. Dan satu lagi yang saya dapati di sini adalah penulis semasa kuliahnya tidak aktif berorganisasi, terkesan SO (Study Oriented). Padahal, kemampuan berorganisasi juga merupakan bekal dalam menjalani karir ke depannya. Hal ini terbukti ketika di awal bekerja, penulis merasa kikuk serta tidak luwes dalam bersosialisasi dengan rekan kerjanya.

Over all, dari novel ini saya mengambil pelajaran mengenai ketekunan, keberanian menembus batas kehidupan,serta cinta keluarga adalah konstrain yang bersifat mutlak.

Pendidikan dan cinta keluargalah yang menyelamatkan semuanya.

Oh ya satu lagi, saya masih penasaran mengenai siapa sebenarnya anak kecil berbaju putih dan bercelana merah yang sempat menemani dan selalu menjadi pendengar setia kisah hidup masa lalu penulis, ketika di Amerika itu.  Kenapa dia tiba-tiba muncul, tau segala hal, dan tiba-tiba ingin pergi.


2 Kommentarer:

puchsukahujan

tadi (hampir) membeli buku ini di toko buku dekat kampus
tapi adanya versi English
jadi mengurungkan niat karena terpesona buku yang lain

semoga nanti saya bisa membacanya pula

Artha Ratu Nauli

Wow saya malah belum nemu yang versi English nya

Jadi penasaran :)