Artha Ratu Nauli

A woman. First daughter in family. An over-thinker. Adventurer. Dessert lover.
An engineer graduated from Petroleum Engineering ITB 2008.
Super random person you'll ever meet.

April 21, 2012

Cemburu~From another perspective.

Cemburu. Kata-kata yang biasanya melekat pada cewek. Nah, tempo hari saya secara tidak sengaja menemukan artikel yang cukup bagus yang memberikan sedikit pencerahan tentang hal ini. Kepada Mbak Miund punten share yaa...

Mari kita tarik nafas bersama sebelum meneruskan pembahasan yang setahu saya sejak zaman batu belum ada ujung akhirnya ini.
Sebenarnya apa sih yang membuat seseorang cemburu?  Menurut berbagai sinetron dan film-film komedi romantis, rasa cemburu biasanya muncul jika salah satu pihak dari sepasang kekasih mulai lirik-lirik yang lain.  Lirik saja mungkin terlalu halus.  Mungkin mulai berani sms-sms yang lain… dan KETAHUAN oleh pasangannya.  Di sinilah timbul cemburu, paranoia, sikap posesif dan pada akhirnya pertengkaran yang bisa berujung di perpisahan. 
Karena saya tahu bahwa walau kolom ini didominasi warna pink dan tampak dibuat seperti “dari perempuan untuk perempuan” banyak lelaki yang suka ngintip, maka mari saya jelaskan dua faktor yang paling umum  dari para lelaki yang membuat para perempuan bertanya-tanya dan cemburu pada akhirnya.
  1. Bersikap terlalu baik pada perempuan lain
Ini tampak sepele, tetapi perempuan tahu kaumnya sendiri, wahai lelaki.  Contoh kasus:  Doni, pria tampan 30 tahun yang sudah menikah dengan Lena dan beranak dua suatu hari menawarkan diri mengantar Vivi, sekretarisnya yang kebetulan tak punya pacar.  Alasan Doni:karena Vivi perempuan dan mengingat banyaknya kasus perkosaan di angkot, dia merasa sebagai pihak yang punya mobil berkewajiban untuk mengantar Vivi demi keselamatan sekretarisnya itu.  Logika di balik itu: kalau Vivi kenapa-napa, nanti dia repot tak punya sekretaris (percayalah, wahai perempuan, lelaki kadang berpikir se-teknis dan se-dangkal ini).  Vivi, yang kebetulan tak punya pacar, menerima tawaran Doni sambil agak bertanya-tanya karena bosnya ini biasanya cuek banget.  Kenapa tiba-tiba mau nganter pulang?  Kenapa tiba-tiba care? 
Sampai sini stop dulu ya.
Mohon para lelaki perhatikan satu fakta yang pahit namun nyata: perempuan itu mudah ge-er.  Ini berlaku untuk perempuan segala usia, mulai dari yang baru akil baliq sampai yang manula.  Ketika menerima perlakuan manis, kami menghargai Anda, sambil sedikit mempertanyakan motif Anda.  Jika terlihat murni berteman, maka kami akan move on dan tak mempermasalahkan (kecuali kami suka pada Anda lebih dari sekadar teman).  Jika terlihat ‘abu-abu’, bagi kami itu SERU.
Mari kita lanjutkan ke kasus Doni. 
Pulang mengantar Vivi, Doni ditanya oleh istrinya, Lena: “Dari mana, kok malam sekali pulangnya?”  Dijawab santai: “Oh habis meeting, langsung nganter Vivi dulu tadi.”
Lena, tahu kalau Vivi itu sekretaris yang gemar tampil seksi dan kebetulan single, langsung mencecar Doni dengan berbagai pertanyaan: “Nganter ke mana?  Ke rumahnya?  Emang dia nggak bisa pulang sendiri apa?  Manja amat minta dianterin kamu!”  Doni lalu akan menatap Lena dengan pandangan ngeri, tak mengira istrinya yang selama ini lemah lembut bisa seganas singa hanya karena ia mengantar Vivi.  “Ma, kamu ngertiin dong ini kan udah malem, kalo dia kenapa-napa di jalan bagaimana?”  Ini adalah jawaban yang memancing komentar ganas Lena berikutnya: “OH JADI SEKARANG KAMU ADA APA SAMA VIVI?  KENAPA CARE BANGET SAMA DIA? EMANG DIA ISTRI KAMU?”
Jreng.
Sampai sini, urusan makin ruwet karena Doni tak merasa salah dan Lena pun merasa punya hak untuk marah.  Ruwet.
Ada yang pernah begini?  Yak, satu… dua… seribu… sejuta.  Oke, mari pindah ke hal berikut yang membuat perempuan cemburu
  1. Sahabat perempuan Anda
Lelaki bersahabat dengan perempuan itu sangat mungkin dan bukan sesuatu yang aneh.  Namun mohon dicatat, ketika Anda para lelaki memutuskan untuk menjalin hubungan dengan orang yang BUKAN sahabat Anda, faktor sahabat ini harap diperkenalkan sedini mungkin.  Mengapa?  Karena hubungan harmonis antara si sahabat perempuan dengan si pacar baru rata-rata pernah melalui jalan berbatu.  Kadang batunya kerikil, kadang batu kali.  Di hati pacar Anda, selalu akan ada pertanyaan yang mungkin tak diungkapkannya, yaitu: “kalau mereka begitu cocoknya, lalu mengapa aku yang dipilih jadi pacarnya?”.  Inilah perempuan saat dia menggunakan logika.  Sialnya, lelaki selalu men-smash logika nyata tersebut dengan pernyataan-pernyataan defensif yang terkesan menyepelekan seperti: “Udah gila apa aku pacaran sama dia? Dia tuh udah kayak adik/kakakku sendiri. Dia udah kayak laki buat aku.  Ga mungkin aku suka sama dia.”
Tujuannya baik ya… tapi sumpah, percayalah kata-kata ini nggak menolong bagi perempuan yang sedang Anda pacari.  Karena sekali lagi, ada fakta yang pahit tapi nyata yang perlu Anda ketahui:  pada dasarnya perempuan itu posesif.
I’m not talking about your new girlfriend, boys.  Maksud saya adalah sahabat perempuan Anda itu.  Setelah bersahabat sekian lama, ia harus tahu bagaimana menjaga jarak dengan Anda, demi menghargai pacar Anda.  Mungkin menurut Anda ini mudah, karena sekali lagi, Anda lelaki.  Tapi buat perempuan biasanya agak sulit karena dalam bersahabat pun kami terbiasa monogamis.  Strange but true.
Dari dua faktor utama itu dapat disimpulkan bahwa perempuan pada dasarnya tahu betul bagaimana kami merespon perhatian atau memandang persahabatan.  Itulah mengapa sering terdengar kata-kata seperti: “Aku tuh percaya kok sama kamu.  Aku cuma gak percaya sama DIA!”  dan “Aku ini perempuan, punya insting!”  tiap kali perdebatan soal cemburu-cemburuan ini terjadi. 
Yang para perempuan suka lupa dari fakta-fakta bahwa MUNGKIN memang benar si perempuan lain itu ge-eran, atau memang berusaha mempesona pasangan kita adalah:  apakah pasangan kita MAU sama mereka? 
Jawabannya: belum tentu kan?  Atau kemungkinan besar malah tidak.  You never know.
“Saling percaya” adalah hal yang mudah diucapkan dan sulit dilakukan.  Ini berlaku juga untuk lelaki kepada perempuan.  Dari dua contoh kasus sederhana yang saya paparkan di atas, ada satu hal prinsip yang bisa meminimalisasi friksi.  Mungkin tidak menghilangkan, tapi jauh mengurangi.
Saling terbuka. 
Mungkin kedengaran klise, tapi jika Lena mengenal Vivi dan sebaliknya pun demikian, maka yang para lelaki tak tahu, akan timbul rasa segan di antara dua perempuan ini.  Lena akan menghargai Vivi secara professional, dan Vivi akan tahu posisi Lena sebagai istri bos.  Hal ini akan membuat Vivi setidaknya berpikir dua kali sebelum ge-er atas perlakuan Doni.
Demikian pula kasus sahabat si lelaki dan pacar barunya.  Jika kedua perempuan ini saling mengenal dan juga bisa menjalin hubungan yang harmonis, maka keseimbangan akan tercapai.  Jika Anda adalah si sahabat, coba deh bersikap terbuka dan jangan unjuk gengsi seperti “Ih dia kan kenal Feri belakangan, duluan gue, ya kalo mau kenalan dia dong yang kenalan duluan sama gue.”  Ini akan beresiko tinggi karena hubungan Anda yang tak harmonis dengan pacar baru sahabat Anda ini bisa membuat sahabat Anda disuruh memilih: Anda atau dia.  Yah biasanya sih… kalau sedang dimabuk cinta, lelaki akan memilih pasangannya.  Bertemanlah dengan pasangan sahabat Anda, dan jangan pasang muka perang tiap bertemu.  Juga satu lagi: hargai waktu si lelaki dengan pasangannya, dan perhatikan norma-norma sosial yang berlaku.  Misalnya: jika dulu Anda bebas menelepon atau chatting dengannya kapan saja, mungkin kini harus lebih dibatasi karena dia sudah ‘milik’ orang lain. Bersikaplah sebagai teman sewajarnya, dan tak perlu mencoba lagi untuk menandai teritori Anda karena sahabat Anda jelas telah memilih dan pilihan itu (sayangnya) bukan Anda.

Jadi untuk hal kayak begini memang pelik sih... perlu dilihat dari berbagi sisi dan berbagai subjek. 

Sip. Semoga makin bijak yaa. Happy happy lalalalalaaaa ~ ~ :))

sumber: http://ads2.kompas.com/layer/konsultasi/miund/index.php

0 Kommentarer: