Artha Ratu Nauli

A woman. First daughter in family. An over-thinker. Adventurer. Dessert lover.
An engineer graduated from Petroleum Engineering ITB 2008.
Super random person you'll ever meet.

March 31, 2012

Bahagia. Sesimpel Itu.

Pasti sering dengan slogan indahnya berbagi kan? Di televisi, radio, majalah, poster, dimana-mana deh pokoknya. Saking seringnya mendengar atau membaca slogan itu, seringkali membuat orang ga merasakan apa-apa, kecuali ya selewat gitu aja slogannya.

Sebenarnya, berbagi itu beneran indah lho. Tentunya berbagi hal-hal yang baik. Kalau berbagi narkoba sudah jelas gak termasuk.

Hari sabtu ini, saya berkunjung ke salah satu panti asuhan di kota Bandung. Sebenarnya sudah sangat lama sih saya merencanakan ini. Tapi baru kesampaiannya sekarang. 

Dilatarbelakangi juga dengan akhir-akhir ini saya yang seringkali mandapatkan mood jelek, galau, dan fikiran yang tidak enak, membuat saya jadi berfikir, mesti ngapain ya biar perasaannya enak? makan ice cream? shopping? dengerin musik? jalan-jalan? Ya semua itu terkadang memang efektif sih, tapi saya ingin sesuatu yang lain yang lebih mendamaikan. Yang lebih ngademin hati.

Kemudian saya teringat nilai-nilai dalam Islam salah satunya adalah keutamaan memuliakan anak yatim, selain mendapatkan  “makanan jiwa”  ternyata berbagi untuk anak yatim dan duafa bisa membuat kita mendapat begitu banyak kebaikan diantaranya beroleh kebaikan berlipat ganda dan dilembutkan hatinya. (sumber: http://www.sejutamotivasi.com/2011/06/21/keutamaan-memuliakan-anak-yatim/)

Yes. Dilembutkan hatinya. Teringat juga dengan salah satu rencana yang lagi-lagi sudah saya ingin lakukan sejak lama, yaitu menyumbangkan sebagian baju-baju yang saya punya. Okay. Fix. Menyumbangkan baju ke panti asuhan. Itu kesimpulannya.

Mulailah saya mencari info tentang panti asuhan mana yang bisa didatangi. Yang pasti mesti yang banyak anak perempuannya. Remaja. Ya, remaja! Kan mau ngasih baju.. Biar bisa kepake.. Lalu dengan bantuan info dari seorang teman, Rony Priyanto Nugraha, dia pernah jadi Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat di himpunan saya, ya jadinya dia punya beberapa alamat panti asuhan yang ada di Bandung. Akhirnya dapetlah Panti Asuhan Muhammadiyah kota Bandung. Here We Go

Baju-baju sudah dipilih. Alamat panti asuhannya sudah ditangan. Pengurus panti asuhannya juga udah dihubungin. Tapi, masalahnya adalah, saya ga tau jalan! Haha.. Akhirnya terpaksa deh 'nodong' Dedi buat nganterin. Untuknya dia mau.Hehe makasih yaa Ded udah mau direpotin :))

Berangkat kami ke alamat yang dituju. Sempet muter-muter juga sih. Tanya sana - sini. Dan dapet. Sesampainya disana, sempet kaget juga, kirain cuma sekedar nyerahin sumbangannya, basa basi dikit, terus pulang. Eh taunya enggak. Si ibu pengurusnya sampe bela-belain ngumpulin anak-anak panti semuanya. FYI, panti asuhan ini memiliki beberapa asrama yang ternyata terletak di lokasi yang berbeda. Dan anak-anak itu diminta berkumpul di tempat yang saya datangi itu semuanya. Tempat yang saya datangi itu adalah rumah si ibu pengurus, yang sekaligus sebagai sekretariat, ada anak-anak asuhan yang tinggal di situ juga beberapa.  Mereka berpakaian batik seragam. Rapi. Laksana mau menyambut tamu penting. Ketika kami masuk, mereka langsung berbaris, salam cium tangan, dan memperkenalkan diri satu-per-satu kepada kami. Sementara saya dan Dedi cuma dateng pake motor bawa plastik berisi baju-baju. Plastikan gitu. Ga proper banget. Rasanya ga imbang aja dengan penyambutan mereka. Ya Allah waktu itu terharunyaaa....

Kemudian kami ngobrol sama ibu pengurus yang dipanggil Ummy dan juga anak-anak panti asuhan. Kebanyakan dari mereka berasal dari luar kota Bandung. Ada yang dari Garut, Jawa Tengah, dan dari Nusa Tenggara. Ada yang ayahnya udah ga ada. Ada yang ibunya udah ga ada. Ada yang ayah-ibunya udah ga ada. Ada juga yang ayah-ibunya masih ada, tapi sangat tidak mampu untuk menghidupi anaknya. Sehingga mereka harus dititipkan di panti asuhan ini. Yang tinggal disana pun tidak hanya perempuan, anak laki-laki pun. Mulai dari yang berumur 6 tahun sampai yang paling besar itu kelas 1 SMA. 

Yang saya perhatikan dari anak-anak ini adalah, semua ceria. Terpancar dari matanya. Suatu keceriaan yang jujur. Mata yang berbinar. Senyum yang bersahaja. Seolah mereka telindungi dari panasnya dunia. Terlindungi dari kisruh sana-sini. Tidak ada kecurigaan. Tidak ada kecemasan. Tidak ada keraguan. 

Ah damai sungguh..
Setelah bercengkrama cukup lama, mereka yang menceritakan kegiatan hariannya, sampai makanan kesukaannya.. Kami pun permisi pulang. 

Entah kenapa, ada perasaan hangat. Ada perasaan tenang. Ada perasaan damai mengisi hati ini *asiik bahasanyaa...*eh tapi beneran lho.. Mungkin disitulah benarnya istilah indahnya berbagi. Ternyata memang bukan sekedar klise. Walapun ya untuk saat ini saya baru bisa berbagi sebatas itu. 

Betapa kasih Allah berada diatas kasih kita kepada sesama. Kepada anak yang telah ditinggal orangtuanya. Kepada mereka yang tidak mampu. Kepada mereka yang (literally) sulit. Mungkin mereka terlihat sulit, tapi ingatlah bahwa kedamaian bisa datang pada siapa saja bagaimanapun keadaannya.

Sampai detik saya menyelesaikan tulisan inipun, masih terasa damai. Hati ini masih hangat. Indah. 
Pelajaran yang saya aperoleh adalah sungguh kebahagiaan itu benar-benar hanya datangnya dari Allah.






0 Kommentarer: